MENGHARAP CINTA DARI ALLAH
MENGORBANKAN SEGALANYA.
Cintanya terhadap Allah yang berlebihan sehingga mengorbankan segala-segalanya demi mengharap cinta dari Allah. Juga tidak boleh, Allah tidak menginginkan umatnya terlalu berlebih-lebihan. Makan berlebihan, minum terlalu berlebihan harta terlalu berlebihan apalagi tidak diinfakkan beberapa dari harta, berpakaian berlebihan, berbicara berlebihan apalagi obral janji berlebihan, tertawa berlebihan. cinta terhadap keluarga berlebihan, seperti cinta pada anak dan istri yang berlebihan.
Seperti Firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 190 (QS;2:190)
190. dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Seperti sajak cinta yang berlebihan, ceritera novel yang berlebihan. Allah tidak membutuhkan puji dan sanjung berlebihan, apalagi sanjung dan puji sifat munafik mengharap pamrih yang berlebihan. Begitu cinta terhadap Allah jangan terlalu berlebihan. Yang terpenting bagi kita umat muslim. Bagaimana cara agar Allah sedikit memberi cinta pada kita itu yang kita harapkan?.
Seperti kata bijak dibawah ini.
“Kalau engkau mencintai dan dicintai orang, bersyukurlah. Karena hidupmu telah berharga, tandanya engkau telah masuk dalam daftar anak bumi yang terpilih. Allah telah memperhatikan belas kasih-Nya kepadamu lantaran pergaduhan hati sesama makhluk. Dua jiwa di seberang Masyriq dan Magrib telah terkukung di bawah suatu perasaan di dalam lingkungan Allah (Al-Nisah Mai)
“Kalau cintanya tak terbalas, bersyukurlah.Karena sesungguhnya orang yang mengusir akan jatuh kasihan dan ingin kembali kepada orang yang diusirnya itu, setelah dia jatuh dari matanya, dia akan jatuh cinta yang lebih tinggi derajatnya dari pada cinta lantaran hawa”.
Batasan Cinta:
Memang sukar memberi batasan tentang cinta; hanya dikatakan bahwa dalam jiwa ia adalah nafsu, dalam sukma adalah simpati, dalam badan hanya suatu keinginan tersembunyi dan halus untuk memiliki yang dicintainya setelah melampaui banyak keharmonisan.
Sebagai gambaran atau perjalanan sejarah yang tercatat.
Seperti layaknya cintanya Romeo terhadap Yuliet, atau cintanya Rama terhadap Shinta, Cintanya Kaislaele dan Maznun, Atau Cintanya sampek dan Engtai, Saida dan Adinda, Roro Mendut dan Pono citro, dan masih banyak ceritera ceritera cinta yang mengorbankan segala galanya demi untuk mengharapakan sebuah cinta. Dan cinta kedua belah pihak pun tidak cinta sembarang cinta hingga mendapatkan bukan cinta bertepuk sebelah tangan tapi cinta mereka telah terbentuk sedemikian rupa sehingga tercatat dalam sejarah sepanjang jaman. Itulah cinta Insan di Dunia.
Cinta terhadap tasauf, tokoh sufi yang terkenal adalah Rabi’ah Al-Adawiyah yang begitu cintanya terhadap Allah untuk mendapatkan sebuah ridonya dari Allah ia mau berkoban tidak bercinta dengan makhluk lain terkecuali Allah. Dituliskan atau diabadikan pada buku-buku sufi. Ia adalah seorang Sufi wanita terkenal abad ked 8. Rabi’ah al-Adawiyah terkenal zahid (tak tertarik pada harta dan kesenangan duniawi dan tak mau meminta pertolongan pada orang lain. Dan manusia untuk mendapatkan cinta dari Allah SWT. dan Allah pun agar berekenan Cinta pada dirinya, maka untuk mencapai jalur cinta dari Allah yang ditempuh oleh manusia yakni dengan jalan tarekat.
Beda cinta manusia dangan manusia, cinta manusia dengan sang penciptanya yakni Allah.
Sepenggal perasaan cinta dan asyik maksyuk dengan Allah, sebgaiman kekasihnya. Bagaimana gelora cintanya
kepada Allah. Tergambar dalam sejumlah ungkapan-ungkapan berikut:
“Aku mengabdi kepada Allah bukan takut kepada Neraka ...bukan pula ingin masuk surg ... tapi aku mengabdi karena cintaku kepada Allah.”
“Allah, jika aku mengabdi kepada-Mu karena takut pada neraka, bakar aku didalamnya, dan jika aku mengabdi kepada-Mu karena mengharapkan surga.. jauhkanlah aku daripadanya : tetapi jika Kau kupuja semata-mata karena Kau. maka janganlah Kau sembunyikan kecantikan-Mu yang kekal dariku.
“Ya Tuhan bintang di langit telah gemerlapan, orang orang telah bertiduran, pintu-pintu istana telah dikunci dan tiap kekasih telah menyendiri dengan kekasihnya dan inilah aku di hadirat-Mu.”
Sewaktu fajar telah menyinsing : “Tuhanku, malam telah berlalu dan siang segera menampakan diri. Aku gelisah apakah amalanku Kau-terima hingga aku merasa bahagia, ataukah Kau-tolak hingga aku merasa sedih.
Demi kemuliaan-Mu inilah yang akan kulakukan selama aku Kau-beri hayat. Sekiranya Kau-usir dari depan pintu-Mu, aku tidak akan pergi, karena cinta pada-Mu telah memenuhi hatiku.”
“Aku mencintai-Mu dengan dua cinta :cinta karena diriku dan cinta karena Diri-Mu. Cinta karena diriku adalah keadaanku senantiasa mengingat-Mu, dan cinta karena diri-Mu adalah keadaan-Mu menyingkapkan tabir hingga Kau kulihat.
Baik untuk ini maupun untuk itu, pujian bukanlah bagiku, tapi bagi-Mullah pujian untuk semuanya.”
“Wahai kekasih-hati, hanya Kau-lah yang kucintai. Bari ampunlah pembuat dosa yang datang ke hadirat-Mu.
Engkaulah harapanku, kebahagiaan dan kesenanganku.Hatiku telah enggan mencintai selain dari-Mu. (Ensiklopedi Islam Indonesia)
Cinta terhadap Rasulullah saw, sangat beda sekali dengan definisi-definisi cinta yang diuraiukan oleh cinta yang bersifat duniawi.
Cinta pada Nabi Muhammad SAW adalah cinta untuk pendekatan pada Rasul dengan cara mentaati apa yang dianjurkan oleh Rasul dan menjauhi apa yang dilarang/tidak diajarkan/tidak dilakukan oleh Rasul.
Seperti dalam firman Allah sebagai berikut :
Surat Al Ahzab (33) surat 62.
• •
62. sebagai sunnah Allah yang Berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati peubahan pada sunnah Allah.
Didalam surat :
Faathir (35) ayat 43.
• • • •
43. karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu[1261]. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.
[1261] Yang dimaksud dengan sunnah orang-orang yang terdahulu ialah turunnya siksa kepada orang-orang yang mendustakan rasul.
Didalam surat : Al Fath (48) ayat 23
• •
23. sebagai suatu sunnatullah[1403] yang telah Berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan peubahan bagi sunnatullah itu.
[1403] Sunnatullah Yaitu hukum Allah yang telah ditetapkannya.
Didalam Surat : Ali Imran (3) ayat 132
132. dan taatilah Allah dan rasul, supaya kamu diberi rahmat.
Didalam surat An - Nisaa (4) ayat 80
•
80. Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka[321].
[321] Rasul tidak bertanggung jawab terhadap perbuatan-perbuatan mereka dan tidak menjamin agar mereka tidak berbuat kesalahan.
Masih dalam firman Allah surat An-Nisaa (4) ayat 115 dan 170
• • •
115. dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu[348] dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.
[348] Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan.
•• • •
170. Wahai manusia, Sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, Maka berimanlah kamu, Itulah yang lebih baik bagimu. dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun) karena Sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah[382]. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
[382] Allah yang mempunyai segala yang di langit dan di bumi tentu saja tidak berkehendak kepada siapapun karena itu tentu saja kekafiranmu tidak akan mendatangkan kerugian sedikitpun kepada-Nya.
Didalam surat AlA’raaf (7) ayat 157.
• • •
157. (yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka[574]. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung.
[574] Maksudnya: dalam syari'at yang dibawa oleh Muhammad itu tidak ada lagi beban-beban yang berat yang dipikulkan kepada Bani Israil. Umpamanya: mensyari'atkan membunuh diri untuk sahnya taubat, mewajibkan kisas pada pembunuhan baik yang disengaja atau tidak tanpa membolehkan membayar diat, memotong anggota badan yang melakukan kesalahan, membuang atau menggunting kain yang kena najis.
Didalam firman Allah Surat Al Anfaal (8) Ayat27
27. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.
Didalam Firman Allah Surat An Nur (24) ayat 54
•
54. Katakanlah: "Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling Maka Sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang".
Penulis tambahkan dari Hadist Shahih Bukhari No 1892.
Dari Abu Hurairah R.A. bahwa Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang mematuhi perintahku, maka sesungguhnya orang itu mematuhi peritah Allah.
Dan siapa yang melanggar perintahku, maka sesungguhnya dia mendurhakai Allah. Siapa yang mematuhi perintah pembesarku, maka sesungguhnya orang itu mematuhi peritahku. Dan siapa yang melanggar perintah pembesarku, maka sesungguhnya orang itu melanggar perintahku.
Sederhana sekali rasa cinta kepada Rasulullah dan Allah, hanya kita berat menjalankannya, Tapi jika sudah rasa cinta kita Seperti Rabi’ah Al-Adawiyah atau seperberapa rasa cinta yang tidak berlebihan. Tidak muluk-muluk keinginan kita untuk mendapat balasan cinta dari Allah. Balasan cinta dari Allah walau hanya seberapa bahagia kita.
Kesimpulan :
Berlebihan, melampui batas, Allah tidak suka dengan cara-cara Kita sebagi umat muslim yang taat ibadah dan taat menjalankan perintah Allah dan taat sunnah Rasulullah, dan taat menjalankan apa yang dilarang dan diperbolehkan. Jangan terlalu berlebihan Bukannya Allah menjadi Cinta pada kita, malah berpaling dari hadapan kita.
Cakil (catatan kecil) Qi-adul
E-mail q_adul@yahoo.com
http://d-humaniora.blogspot.com.
Definisi-definisi Cinta :
Cinta menurut para, Ulama, cendekiawan, sastrawan, dan agamawan dan budayawan.
Imam Ghazali.
Rasa cinta kepada Allah. Orang jatuh cinta lebih senang berdua-duaan dengan kekasihnya dimalam hari ketika orang lain sedang tidur nyenyak.
Pof.DR. Hamka.
Cinta dan keadilan tidak dapat dipisahkan,sebab cinta mengandung kejujuran dan amanat, sedang jujur dan amanat adalah tiang dari keadilan.
There are four different kind of love :
1. Passion – Love that or the Potuguese Nun, of Meloise for Abelard.
2. Sympathy –Love, such as .. is found in the memoirs and romance..
3. Sensual Love
4. Vanity Love
Ada empat macam cinta :
1. Cinta nafsu, cinta dari biarawati Portugis cinta Meloise terhadap Abelerdus.
2. Cinta simpati seperti terthadap dalam memoar atau roman.
3. Cinta sensual
4. Cinta kesia siaan.
(Stendhal tahun 1782 1812, Penulis Inggris)
Seek the truth
Listen to the truth
Love the truth
Abide by the truth
And defend the truth
unto death
Carilah kebenarfan
Dengarkan kebenaran
Cintailah kebenaran
Ajarkan kebenaran
Dan belalah kebenaran sampai mati
Cinta tidak mengenal batas dan rintangan
Cinta tidak mengenal lautan api yang diseberangkan
Apapun yang dilakukan demi cinta
Jalaludin Rumi demi cinta meninggalkan segala kesenangan duniawi
Rabi’ah Al-Adawiyah, menikmati kesendirian seumur hidupnya demi cinta.
Khalil Gibran : Jika cinta menghampiri ikuti kemana pergi.
Banyak orang percaya kekuatan cinta dapat mengubah kehidupan manusia.
Cinta adalah Api yang dingin siapa yang mendekatinya tidak akan terbakar tetapi tertangkap
Kita tidak dapat melemparkan diri dari pada cinta, karena ia adalah sebagian dari asal manusia.
Cinta membuat orang lemah jadi kuat dan orang kuat jadi lemah Contoh Samson dan Delilah. (Lord Byron)
Cinta itu suatu hal yang aneh, jika manusia menggenggamnya terlalu kuat ia akan mati, tetapi jika manusia menggenggamnya terlalu longgar maka ia akan mati (Harrit K)
Sesedih-sedihnya cinta masih akan dapat meninggalkan kesan dan kesenangan yang indah (Alfred de Nusset).
Cinta yang dimulai dengan api semangat yang membakar, seringkali berakhir dingin dan beku.
Cintailah semua orang, tetapi percayailah kepada sedikit orang saja (William Shakespeare)
Barang siapa memiliki kecintaan yang baik maka ia malu akan berbuat sesutu kejahatan. (Wolter Vonder Vogelweids)
Berjumpa, berkenalan, bercinta, dan berpisah, itulah ceritera sedih banyak di hati manusia (Voltaire)
Dalam percintaan orang membutuhkan kepercayaan, dalam persahabatan dibutuhkan pengertian (Abei Dokward)
Cinta itu gelisah tetapi membawa ketentraman.
Bahagia yang sejati ialah bahwa engkau mencintai sesama manusia sebagaimana mencintai dirimu sendiri. (Leo Tolstoy)
Cinta keduniawian itu menjadi pokok pangkal dari segala kesalahan (Imam Malik)
Diantara hal yang diperjual belikan, cinta palsu lebih mahal harganya dari pada cinta sejati.
Apabila cinta telah mendalam, tidak ada lagi kehendak kecintaan yang berat dipikul. Apabila cinta telah terpadu, maka diantara yang mencintai dengan yang dicintai samalah kesukaaanya dan samalah yang tidak disukai.(Prof. Dr. Hamka).
Cintailah apa yang dicintai masyarakat umum dan marahilah apa yang dimarahi masyarakat umum. (Kong Fu Tse)
Cinta menyebabkan si kikir menjadi royal, si pengecut akan lebih berani mati untuk orang yang dicintainya. (Victor More)
Tanda cinta itu terus menerus rajin dan bersungguh-sungguh dengan kerinduan , lesu badannya tapi tidak lesu hatinya.
Hunger I can encure, Love I can not:Lapar dapat saya tahan tetapi cinta tidak (Claudius Caudianus)
Love of money is mother of all evill. Cinta akan uang adalah biang dari segala kejahatan (Diagenly 400 – 325 SM Filsuf Yunani)
The love of money and the love of learning rarely meet.
Cinta uang dan cinta pengetahuan sulit dapat disatukan. (George KHerbert,` 1593 – 1633) Penyair Metafisi Inggris.
OBITUARIUM
Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat sakit
atau gatal
Aku pingin makan tajin
Aku tak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal
dan wajar
Aku pingin membersihkan
tubuhku
dari racun kimiawi
Aku ingin kembali pada jalan
alam
Aku ingin meningkatkan
pengabdian
kepada Allah
Tuhan aku cinta pada-Mu
Rendra
31 Juli 2009
Mitra Keluarga
(Media Indonesia Sabtu 8 Agustus 2009)
INGIN KITA MENINGGALKAN KESAN BAIK
DAN BERMANFAAT BAGI BANYAK ORANG.
Pernah seorang teman mengutarakan padaku:
“Pak Abdul saya ingin nanti kalau saya sudah tidak ada, jangan sampai ketidak adaan saya ditengah jalan, karena celaka atau apapun sehingga saya ditutupi koran terbitan hari ini atau terbitan sudah lewat berapa hari atau berapa minggu, dan ditonton orang banyak hanya ingin tahu awal kejadiannya apa?”. lalu diam sejenak, dan ia berkata lagi. “Aku sih inginnya yang wajar-wajar saja ketika saya berakhir masa tinggal di bumi, ingin ditempat tidur dan ditunggui sanak keluarga dan berakhir dengan wajar dan sangat mengharapkan sekali semoga doa permohonan saya diterima oleh Allah”.
“Semua juga inginnya begitu, tapi masalah penjemputan kita dari atas bumi berpijak berbeda,beda, waktu berbeda, tempat berbeda, dan ketidak adaan kita waktu berakhir dengan cara apa kita tidak tahu?.” Kataku. “Yang penting kita bermohon pada Yang Maha Kuasa (Allah), agar akhir hayat kita dibaguskan tempatnya, dibaguskan kondisinya, dibaguskan pada masa akhir hidupnya.” Kataku lagi.
Jelang beberapa tahun saya tidak jumpa dengan temanku itu, dan ketika itu saya sedang ditugaskan keluar kota. Saya mendengar ia meningal, dan berita dari temanku. “Ia jatuh di Pinggir Jalan raya yang kebetulan di depan Rumah sakit yang cukup bagus, dan segera ditolong langsung, karena ia berpakain sangat rapi dan berdasi”. Memang temanku selalu kekantor dulu ia sangat berpakaian rapi dan selalu berdasi. Alasannya : “Kalau kita punya masalah, atau kena musibah di tengah jalan kita cepat ditolong orang, dibandingkan dengan orang yang berpakaian orang kumuh.” begitu ucapannya.
“Akhir hayatnya dihadiri sanak keluarga di Rumah sakit”.Begitu teman-teman yang lain berceritera padaku.
Aku hanya bicara dalam hati.”Ya Allah engkau mengabulkan doanya, ia tidak ingin berakhir hidupnya dengan keadaan nista”.
Sisi lain ia adalah seorang teman, seorang yang saya gemari, dan sangat terkenal di dunia theater dan budaya, penyair yakni WS Redra. Saya bertemu terakhir kali ketika mempringati ulang tahunnya yang ke 70 (tujuh puluh) tahun, di TIM dalam rangka seminar perjalanan budaya dan sedlama ia berkecimpun di dunia penyairan.
Yang saya sangat terkesan sekali yakni sajaknya yang terakhir di muat di harian Media Indonesia hari Sabtu tanggal 8 Agustus 2009 sedang WS Rendra dijemput Oleh Yang Maha Kuasa tanggal 6 Agustus 2009.
Sajak ditulis tgl 31 Juli 2009, ketika sedang sakit dan dirawat dirumah sakit.
OBITUARIUM
Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat sakit
atau gatal
Aku pingin makan tajin
Aku tak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal
dan wajar
Aku pingin membersihkan
tubuhku
dari racun kimiawi
Aku ingin kembali pada jalan
alam
Aku ingin meningkatkan
pengabdian
kepada Allah
Tuhan aku cinta pada-Mu
Rendra
31 Juli 2009
Mitra Keluarga
(Media Indonesia Sabtu 8 Agustus 2009)
Dua kejadian atau dua peristiwa dan peristiwa-peristiwa lainnya sudah tidak asing bagi manusia yang hidup di bumi ini. Karena kita menyadari bahwa, semua yang hidup di bumi akan mati sesuai dengan firman Allah :
Surat Ali Imran ayat 143 s/d 145 (QS;3:143-145)
• •
143. Sesungguhnya kamu mengharapkan mati (syahid) sebelum kamu menghadapinya; (sekarang) sungguh kamu telah melihatnya dan kamu menyaksikannya[233].
144. Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul[234]. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur.
145. sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. dan Kami akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur.
[233] Maksudnya: sebelum perang Uhud banyak Para sahabat terutama yang tidak turut perang Badar menganjurkan agar Nabi Muhammad s.a.w. keluar dari kota Madinah memerangi orang-orang kafir.
[234] Maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w. ialah seorang manusia yang diangkat Allah menjadi rasul. Rasul-rasul sebelumnya telah wafat. ada yang wafat karena terbunuh ada pula yang karena sakit biasa. karena itu Nabi Muhammad s.a.w. juga akan wafat seperti halnya Rasul-rasul yang terdahulu itu. di waktu berkecamuknya perang Uhud tersiarlah berita bahwa Nabi Muhammad s.a.w. mati terbunuh. berita ini mengacaukan kaum muslimin, sehingga ada yang bermaksud meminta perlindungan kepada Abu Sufyan (pemimpin kaum Quraisy). Sementara itu orang-orang munafik mengatakan bahwa kalau Nabi Muhammad itu seorang Nabi tentulah Dia tidak akan mati terbunuh. Maka Allah menurunkan ayat ini untuk menenteramkan hati kaum muslimin dan membantah kata-kata orang-orang munafik itu. (Sahih Bukhari bab Jihad). Abu Bakar r.a. mengemukakan ayat ini di mana terjadi pula kegelisahan di kalangan Para sahabat di hari wafatnya Nabi Muhammad s.a.w. untuk menenteramkan Umar Ibnul Khaththab r.a. dan sahabat-sahabat yang tidak percaya tentang kewafatan Nabi itu. (Sahih Bukhari bab Ketakwaan Sahabat).
Masih dalam surat Ali Imran ayat 154 s/d 158
• • • • •
154. kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu[241], sedang segolongan lagi[242] telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah[243]. mereka berkata: "Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?". Katakanlah: "Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah". mereka Menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: "Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini". Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh". dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha mengetahui isi hati.
155. Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu[244], hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan Sesungguhnya Allah telah memberi ma'af kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.
156. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka Mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: "Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh." akibat (dari Perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan.
157. dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal[245], tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan.
158. dan sungguh jika kamu meninggal atau gugur, tentulah kepada Allah saja kamu dikumpulkan.
[241] Yaitu: orang-orang Islam yang kuat keyakinannya.
[242] Yaitu: orang-orang Islam yang masih ragu-ragu.
[243] Ialah: sangkaan bahwa kalau Muhammad s.a.w. itu benar-benar Nabi dan Rasul Allah, tentu Dia tidak akan dapat dikalahkan dalam peperangan.
[244] Dua pasukan itu ialah pasukan kaum muslimin dan pasukan kaum musyrikin.
[245] Maksudnya: meninggal di jalan Allah bukan karena peperangan.
Masih dalam surat Ali Imran ayat 168 dan 169
•
168. orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: "Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh". Katakanlah: "Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar".
169. janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup[248] disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.
[248] Yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana Keadaan hidup itu.
Masih di dalam firman Allah surat Ali Imran ayat 185
• •
185. tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.
Didalam Surat An Nisaa ayat 78 (QS;4:78)
78. di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, Kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan[319], mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) Hampir-hampir tidak memahami pembicaraan[320] sedikitpun?
[319] Kemenangan dalam peperangan atau rezki.
[320] Pelajaran dan nasehat-nasehat yang diberikan.
Di Dalam surat Al An’aam ayat 61 dan 93 (QS;6:61 dan 93)
•
61. dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat- Malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.
93. dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", Padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah." Alangkah dahsyatnya Sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang Para Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.
Didalam surat Al A’raaf ayat 34 (QS;7:34)
•
34. tiap-tiap umat mempunyai batas waktu[537]; Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.
[537] Maksudnya: tiap-tiap bangsa mempunyai batas waktu kejayaan atau keruntuhan.
Surat Yunus ayat 49 (QS;10:49)
• •
49. Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah". tiap-tiap umat mempunyai ajal[696]. apabila telah datang ajal mereka, Maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya).
[696] Yang dimaksud dengan ajal ialah, masa keruntuhannya.
Dalam surat Al Hijr ayat 5 (QS;15:5)
• •
5. tidak ada suatu umatpun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan (Nya).
Surat An Nahl ayat 61 (QS;16:61)
•• •
61. Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya.
Surat Al Anbiyaa’ ayat 35 (QS;21:35)
35. tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.
Didalam surat Al Mukminuun ayat, 15, 43,99 dan 100(QS;23:15,43,99,100)
15. Kemudian, sesudah itu, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.
•
43. tidak (dapat) sesuatu umatpun mendahului ajalnya, dan tidak (dapat pula) mereka terlambat (dari ajalnya itu).
•
99. (Demikianlah Keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, Dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia)[1021],
100. agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah Perkataan yang diucapkannya saja. dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan[1022].
[1021] Maksudnya: orang-orang kafir di waktu menghadapi sakratul maut, minta supaya diperpanjang umur mereka, agar mereka dapat beriman.
[1022] Maksudnya: mereka sekarang telah menghadapi suatu kehidupan baru, Yaitu kehidupan dalam kubur, yang membatasi antara dunia dan akhirat.
Di dalam surat Al ‘Ankabuut ayat 57 (QS;29:57)
57. tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.
Didalam surat Saba’ ayat 14 (QS;34:14)
•
14. Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau Sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.
Di Dalam Surat Az Zumar (QS;39:30,31 dan 42)
• • •
30. Sesungguhnya kamu akan mati dan Sesungguhnya mereka akan mati (pula).
31. kemudian Sesungguhnya kamu pada hari kiamat akan berbantah-bantah di hadapan Tuhanmu.
•
42. Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan[1313]. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.
[1313] Maksudnya: orang-orang yang mati itu rohnya ditahan Allah sehingga tidak dapat kembali kepada tubuhnya; dan orang-orang yang tidak mati hanya tidur saja, rohnya dilepaskan sehingga dapat kembali kepadanya lagi.
Di Firman Allah surat Qaaf ayat 19
19. dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.
Di Firman surat Al Waaqi’ah ayat 60,83 s/d 87(QS;56:60,83 s/d 87)
60. Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan,
83. Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan,
84. Padahal kamu ketika itu melihat,
85. dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. tetapi kamu tidak melihat,
86. Maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah)?
87. kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?
Di firman Allah rat Al Jumu’ah ayat 6 s/d 8 (QS;62: 6 s/d 8)
•• • • •
6. Katakanlah: "Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa Sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, Maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar".
7. mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. dan Allah Maha mengetahui akan orang-orang yang zalim.
8. Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".
Di dalam firman Allah surat Al Munaafiquun ayat 10 dan 11 (QS;63:10 dan 11)
• •
10. dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku Termasuk orang-orang yang saleh?"
11. dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.
Di Firman Allah surat Al Mulk ayat 12 (QS;67:12)
• •
12. Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.
Di Firman Allah dalam Surat Al Qiyaamah ayat 26 s/d 30(QS;75:26 s/d 30).
26. sekali-kali jangan. apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan,
27. dan dikatakan (kepadanya): "Siapakah yang dapat menyembuhkan?",
28. dan Dia yakin bahwa Sesungguhnya Itulah waktu perpisahan (dengan dunia),
29. dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan)[1533],
30. kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.
[1533] Karena hebatnya penderitaan di saat akan mati dan ketakutan akan meninggalkan dunia dan menghadapi akhirat.
Demikian ayat ayat yang berkenaan dengan kematian, akan penulis lampirkan Hadits dan kata kata bijak yang juga berkenaan dengan kematian.
Hadits Shahih Bukhari Jilid satu No 89 di halaman 68.
Ceritera dari Abdullah r.a., mengatakan. “Ketika saya berjalan bersama Rasulullah saw., melalui reruntruhan rumah-rumah di Madinah, sedang Nabi bertelekan pada sebatang tongkat dafrdi pelepah tamar, kami melewati sekelompok orang Yahudi.
Salah seorang dari mereka berkata kepada yang lain. “Tanyakanlah kepadanya (Muhammad) masalah ruh!”.
Yang lain berkata, “Jangan! Kalau kau dia memberi jawaban yang kurang menyenangkan.”
Kata yang lain pula . “ Kita perlu bertanya padanya.”
Lalu salah seorang dari mereka berdiri dan bertanya. “Ya Abu Kasim! apakah yang dimaksud dengan ruh?”
Nabi diam sebentar.Saya kira ketika itu wahyu sedang turun kepada beliau dan saya masih saja berdiri di belakang beliau hingga wahyu itu selesai turun, Kemudian beliau membaca, “Mereka bertanya kepadamu perihal masalah ruh. KataKANLAH KEPADA MEREKA, RUH ITU URUSAN tUHAN BELAKA. kAMU TIDAK AKAN DIAJARKAN PERIHAL RUH ITU kecuali hanya sedikit[1]
Abu Hamid Al ghazali
Jangan sangka sang maut itu sebuah kematian, sesungguhnya dia kehidupan dan tujuan yang mulia. Jangan sesalkan kematian (al maut). Sesungguhnya ia adalah tempat pindah dari alam ini.
A good man never dies
Orang baik tak pernah mati
All tragedies are finished by death
Semua tragedi berakhir dengan suatu kematian.
The paths of glory lead but to the grave
Jalan kejayaan hanya menuju kematian.
Death is that final sparation from all we have worked for al that we built up,all that near and dear to us.
It’s too bad that daying is the last thing we do
Because it could teach us so much about living. (Robert M.Harold)
Kematian adalah perpisahan akhir dari semua yang telah kita upayakan, semuayang kita bangun, semua yang dekat dan berharga bagi. Tapi sayang bahwa kematian adalah hal yang terakhir yang kita lakukan, sebab kalau tidak dia bisa mengajarkan kepada kita banyak sekali hal mengenai kehidupan ini.
In this world nohing can be
Said to be certain except death and taxes
Di Dunia ini tidak ada yang dapay dikatakan sebagai yang pasti kecuali kematian dan pajak. (Benyamin Franklin 1706-1790)
We are all under sentence of death but with a sort of in definite reprieve.
Kita semua dihukum mati namun mengalami penangguhan untuk waktu yang tidak terbatas. (Victor Hugo)
There are but three great events in a man’s life birth life and death of birth he is insensible he suffers whwn he dies and forgets to life.
Hanya ada tiga peristiwa penting dalam hidup seorang manusia.
Kelahiran, kehidupan dan kematian.
Pada waktu lahir dia tidak merasa apa-apa, menderita ketika meninggal dan lupa untguk hidup (Jean De La Brayene 1645-1696)
All men are equal in thee presence of death
Di hadapan kematian semua orang adalah sama.
The wise man looks at deat with houesty dignity and calm reeoguizing that tragedy it is in hevent in the great gift of life.
Orangf bijak memandang kematian dengan jujur, penung penghargaan dan tenang karena mengetahui bahwa tragedi yang dibawanya menyatu dengan anugrag kehiduapn (coertiss Lamont 1902)
Teach him to life rather to avoid death life is not breath but action.
Ajarkanlah dia lebih mengha hidup dari pada menghindari kematian, hidup bukan nafas melainkan tujuaan
A sleep not death a good man never dies
Orang baik tidka ternah mati ia cuma tidur tidak mati.
The difficulty my friend is no to avaoid death but to avoid unrigh teauness for that runs fasten than death
Kesulitan bukan untuk menghindari kematian melainkan untuk menghindari kejahatan. Karena kejahatan lebih cepat larinya dari pada kematian.(Socrates 470-399 SM)
It is better to die on your feet than to life on your knees
Lebih baik matgi dalam keadaan tegak dari pada hidup bertekuk lutut.(Emiliano Zepata)
Life levels all mens ; death redveals the eminent
Hidup menumbangkan semua orang
Kematian mengungkapkan yang unggul
Tiadalah kesenangan bagi orang mu’min selain dari pada bertemu dengan Allah SWT. Maka hari kematian itu hari kegembiraan, kesenangan, kemegahan, keamanan dan kemuliaan.(Hasan Al Basri)
Ikatlah tengah-tengah dadamu bagi hati, bahwa mati itu akan menjumpai kamu.
Janganlah kamu bergundah hati dari mati apabila ia datang ke lembahmu. (Ali bin Abithalib)
Meninggalnya seribu ada yang malamnya mengerjakan sholat dan siangnya berbuasa adalah lebih mudah daripada meninggalnya seorang ahli ilmu yang mengetahui yang diharamkan dan yang dihalallkan Allah (Umar bin khattab)
What happens to the soul when is divorced from the body
Apa yang terjadi dengan jiwa ketika dipisahkan dari badan
“ J E N A Z A H”
Cakil (catatan kwecil) Qi-adul
(Abdulrachman Saleh S.)
Kug guyur tubuh kaku dingin beku
Ku basuh seluruh tubuh tanpa baju
Sabun, kembang harum , kapur barus , mengurangi bau
Diguyurkan dari ujung kepala ke ujung kuku
Perlahan–lahan kubasuh satu ke satu dan pada suatu saat akupun dimandikan begitu
begitu juga kamu-kamu dan kamu
Tubuh dingin kubungkus kafan
Bumbu jenazah, kapas, batang kenanga bubukan
Ku ikat dari kepala, pinggang kaki, tiga ikatan
Kuletakan di kiblatkan , dishalatkan
sebentar akan dikuburkan
Dengan ucapan kata dari teman
sanak famili ahli waris tentang kebaikan
utang piutang atau tunggakan
selama hidup ia jalankan
Hari ini aku membungkuskan
dan ikut mendo’akan
Pada suatu saat aku akan dibegitukan
begitu juga kalian
Semua Allah yang menentukan
Aku dan rekan menggotong kerandang tempat orang mati
Keranda yang dibuat dari besi
Seperti rasanya berat sekali
jika dosanya banyak sekati
Begitu kata Pak kiyai
Pada suatu saat akupun dipikul barangkali
begitu juga kalian entah entah sekarang atau nanti
datangnya tiba-tiba dan tak dapat di duga sama sekali
Ketika aku masukan jenazah itu ke liang kubur
liang yang sudah panjang badan diukur
tubuh yang tak membawa apaun terbujur
Pada suatu saat akupun gugur
begitu saudaraku sedulur
Jika ajal sudah tiba tidak bisa diundur
Jenazah dikubur hari ini
Bukan berarti
Orang itu sudah tidak ada lagi
Catatan sejarah yang diingatkan ini
Harimau mati meninggalkan belang gajah mati meninggalkan gigi
Kita mati meninggalkan amal ibadah dan bakti
Para pengantar meninggalkan tujuh langkah kaki
Para malaikat sudah menjemput akan bertanya itu ini
Berbuat apa kamu selama di dunia ini
Pernahkah kamu bersekutu dengan syitan, iblis, tuyul dan dewa dewi
Atau perbuatan musyrik meninggalkan Allah dan Ajaran
Nabi.
1994 Jakarta, 22 Juli
I’TIKAF DI BULAN RAMADHAN YUK YUK YUK
Sungguh banyak ibadah yang dianjurkan/dikerjakanselama bulan Ramadhan ini. Salah satu ibadah sunnah yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah menjelang akhir Ramadhan yakni I’TIKAF.
Dalam firman Allah surat Al Baqarah surat 187 (QS;2:187)
• • • • ••
187. Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf[115] dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.
[115] I'tikaf ialah berada dalam mesjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah.
Dari Aisyah, Istri Nabi Muhammad SAW ia berkata : “Adalah Nabi biasa I’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, sampai beliau wafat kemudian istri-istri beliau melaksanakan I’tikaf sepeninggalannya.” (HR Bukhari, Ahmad dan Baihaqy).
MAKNA I’TIKAF
I’tikaf berasal dari kata , ‘AKAFA – YA’KIFU-WAYA’KUFU-UKUUFAN. Menurut Bahasa, I’Tikaf adalah menetapi dan menahan diri padanya, baik sesuatu berupa kebaikan atau kejahatan.
Sedangkan arti I’tikaf menurut istilah syara’ ialah menetapkan seorang muslim di dalam masjid untuk melaksanakana ketaatan dan ibadsah kepada Allah.
Pelaku ibadahnya disebut mu’takif atau ‘aakif.
HIKMAH DAN MANFAAT I’TIKAF
Hikmah begitu besar yakni menghidupka sunnah RASUL.
Sedang Manfaat I’tikaf
1. Untuk merenungi masa lalu dan memikirkan hal-hal yang akan dilakukan dihari esok.
2. Mendatangkan ketenangan, ketentraman dan cahaya yang menerangi hati yang penuh dosa.
3. Mendatangkan berbagai macam kebaikan dari Allah. Amalan-amalan kita akan diangkat dengan rahmat dan kasih sayang dari Allah.
4. Orang yang be I’tikaf pada sepuluh akhir bulan Ramadhan akan terbebas dari dosa-dosa karena pada hari itu salah satunya bertepatan dengan lailatul qadr.
HUKUM I’TIKAf
Hukum I’tikaf ada dua Wajib dan Sunnat
I’tikaf Sunnat ialah yang dilakukan oleh seseorang secara sukarela dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapkan pahala dari pada-Nya.
I’tikaf Wajib ialah itikaf yang diwajibkan oleh seseorang terhadap dirinya sendiri, karena nadzar.
WAKTU
I’tikaf yang wajib, dilakukan sesuai dengan apa yang telah di nadzarkan dan diiqrarkan seseorang.
I’tikaf Sunnat tidaklah terbatas waktunya. Namun yang paling utama adalah I’tikaf di bulan Suci Ramadhan, khususnya sepuluh hari terakhir.
Syarat-syarat I’tikaf
1. Seorang muslim
2. Sudah baligh
3. Suci dari janabat, suci dari haidh dan suci dari nifas.
RUKUN-RUKUN I’TIKAF
1. Niat.
Tidak sah satu amalan melainkan dengan niat. Firman Allah :
•
5. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.
[1595] Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.
Rasulullah shalallahu’ Alaihi Wassalam bersabda, “Sessungguhnya segala perbuatan tergantung pada niat, dan manusia akan mendapatkan balasan menurut niat, dan manusia akan mendapatkan balasan apa yang diniatkannya.” (HR. BUKHARI)
2. Tempatnya:
Hakikatnya I’tikaf ialah tinggal di Masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah.
MASJID YANG SAH UNTUK I’TIKAF
1. Sebagian ulama berpendapat bahwa I’tikaf itu hanya dilakukan di tuga masjid, yaitu Masjid Haram, Masjid Nabawi, dan masjidil Aqsha.
2. Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, Ishaaq dan Abu Tsur berpendapat bahwa I’tikaf itu sah dilakukan di setiap Masjid, yang di mesjid itu dilaksanakan shalat lima waktu dan didirikan jama’ah.
3. Imam Malik, Imam Syafi’i dan Abu Dawud berpendapat bahwa I’tikaf itu sah dilaksanakan pada setiap masjid.
Ibnu Hazm, “I’tikaf itu shah dan boleh dilakukan di setiap masjid, baik disitu dilaksnakan shalat jum’at atau tidak.”
Menurut jumhur ulama, tidaklah akan sah bagi seseorang wanita beri’tikaf di masjid rumahnya sendiri, karena masjid di dalam rumah tidak bisa dikatakan masjid.
Tentang wanita I’tikaf di Masjid diharuskan membuat kemah sendiri terpisah dari laki-laki, dan untuk masa sekarang harus dipikirkan tentang fitnah yang akan terjadi bila para wanita hendak I’tikaf.
KAPAN MEMULAI DAN MENGAKHIRI I’TIKAF
Telah disebutkan bahwa waktu untuk I’tikaf sunnat adalah tidak terbatas. Maka bila seseorang telah masuk masjid ia berniat taqarrub kepada Allah dengan tinggal di dalam masajid beribadah bebrapa saat, maka ia beri’tikaf sampai ia keluar.
Pendapat yang menerangkan bahwa masuk I’tikaf sebelum matahari terbenam pada tanggal 20 Ramadhan malam ke 21
Kesimpulan empat Imam sepakat bahwa I’tikaf berakhir dengan terbenamnya matahari di akhir Ramadhan.
Kata Ibrahim, “Mereka menganggap sunnat bermalam di masjid pada malam ‘Idul Fitri bagi orang yang beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan, kemudian pagi harinya langsung pergi ke lapangan (Untuk shalat ‘Idul fitri)
Orang yang bernadzar akan beri’tikaf satu hari atau beberapa hari tertentu, maka hendaknya ia memulai I’tikafnya itu sebelum terbit fajar, dan keluar dari masjid bila matahari sudah terbenam, baik I’tikaf itu di bulan Ramadhan maupun di bulan Lainnya.
SUNNAH-SUNNAH PADA I’TIKAF
Disunnahkan bagi orang yang beri’tikaf untuk memperbanyak ibadat sunnat, shalat berjamaah lima waktu, membaca Al Qur,an, tahmid, takbir istighfar dan berdoa, menuntut Ilmu, membaca mangkaji buku-buku dan hadist, memperbanyak Tafakur.
YANG DIMAKRUHKAN BAGI MU’TAKIF
Dimakruhkan bagi orang yang i’tikaf melakukan hal-hal yang tidak perlu dan tidak bermanfaat, baik berupa perkataan atau perbuatan, seperti banyak bercanda, mengobrol yang tidak berguna, sehingga menggangu konsentrasi I’tikafnya.
Ada sebagian orang yang beri’tikaf namaun dengan meninggalkan tugas dan kewajiban. Hal ini tidak dapat dibenarkan karena sungguh tidak proporsional seseorang meninggalkan kewajiban untuk sesuatu yang sunnah.
YANG DIBOLEHKAN DALAM I’TIKAF
1. Boleh keluar masjid karena keperluan mendesak, seperti buang hajat, mandi, makan dan minum jika tidak ada yang mengantarkan makanan, berobat jika sakit. Boleh juga mengeluarkan kepala keluar masji untuk dicuci atau disisiri.
2. Boleh Berwudhu di masjid
3. Boleh membuat kemah kecil atau bilik kecil dengan kain di belakang masjid sebagai tempat I’tikaf
4. Boleh meletakan kasur atau dipan untuk I’tikaf
5. Boleh mengantar istri yang mengunjungi di masjid sampai pintu masjid.
YANG MEMBATAlKAN I’TIKAF
1. Sengaja keluar dari masjid tanpa suatu keperluan walaupun hanya sebentar.
2. Murtad
3. Hilang Akal
4. Haidh
5. Nifas
6. Bersetubuh/bersenggama berdasarkan firman Allah (QS;2:187)
Dianjurkan bagi orang-orang yang I’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan , perbanyaklah dzikir yang diharapkan adanya Lailatul Qadar.
“Allahumma innaka ‘afuuwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’annii.”
Ya Allah sesungguhnya engkau Maha Pemaaf dan suka memaafkan, maka maafkanlah aku.”
Maraji :
1. Al Qur,an dan terjemahan Depag.
2. Hadist Shahih Bukhari Jilid 1 s/d IV – Penerbit Klang book Centre Klang, Selangor Malaysia.
3. Keutamaan dan Hukum I’tikaf oleh Syaikh Abdullah Bin Abdurrahman Al-Jibrin Buletin dakwah An Nur edisi Ramadhan 1416 H
4.Sifat Shaum Nabi, Syaikh Ali Hasan dan Syaikh Salim Al-Hilali.
5. I.tikaf oleh ustad Yazid bin Abdul Qadir Jawas, dari As-Sunnah
6.I’tikaf dari Ied, oleh Ustad Khalid Syamsuddin , Elfata 12/III/2003.
7.Catatan Ceramah dari Ustad Masduki Mustafa dan Ustad Achmad Kosasih.
Cakil : (Catatan kecil) ki Adul
E-mail :q_adul@yahoo.com
Http://d-humaniora.blogspot.com
Gogle d_yak
INTISARI (RINGKASAN) CERAMAH DALAM RANGKA NUZUL QUR’AN di MASJID AL KAUTSAR oleh USTADZ K.H. TUBAGUS AGUS ALI IMRON
Hari Kamis Malam Jum’at tgl 10 September 2009, setelah Sholat Teraweh malam ke 21 di bulan RAMADHAN dari jam 20.30 s/d jam 21.30.
Allah menurunkan Al Qur’an, lalu Al Qur,an diturunkan pada siapa?.
Menurut Sayidina Ali (Ali bin Abi Thalib) manusia mempunyai tingkatan tingkatan yakni :
1. Tingkatan Akal ada lagi tingkatan lebih tinggi yakni
2. Tingkatan Mabuk adalagi tingkatan yang lebih tinggi lagi
3. Tidur ada lagi tingkatan yang lebih tinggi
4. Stress.
Lalu Al Qur,an itu, hanya diturunkan pada orang yang mempunyai Badan bersih, hati suci dan otak jernih.
Untuk mendapatkan ini maka, manusia banyak membaca mengkaji dan mempelajari ilmu ilmu yang terkandung dalam Al Qur’an dan berserah diri pada Allah dengan segala sesuatunya.
Jangan memikirkan yang sesuatunya tidak perlu dipikirkan. Jangan terlalu mengada ngada yang sebenarnya tidak perlu di- ada-adakan.
ki-adul 10.9.09
Malam LAILATULKADAR.
Malam Kadar
Malam kemuliaan
Malam keagungan
Malam yang mulia
Malam itu di bulan Ramadhan
Sejahytera malam itu
•
1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan[1593].
2. dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu?
3. malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
4. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
5. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.
[1593] Malam kemuliaan dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam Lailatul Qadr Yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya Al Quran.
Lailat Mubarakat (Malam yang diberkahi)
Langit Tidak Gelap dan tidak terang
Cuaca tidak panas dan tidak dingin
Awan lembut
Rintik hukan begitu lembut hanya sedikit sedlkit jatuh ditangan
Bintik-bintik embun menjelang imsak.
Bintang-bintang bersembunyi
Bulan pun tidak tampak
aku benar benar menikmati malam itu malam
LAILATULKADAR.
DENGAN HATI JERNIH SUCI BADAN BERSIH kEPALA JERNIH
AKU BERZIKIR
“Allahumma innaka ‘afuuwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’annii.”
Ya Allah sesungguhnya engkau Maha Pemaaf dan suka memaafkan, maka maafkanlah aku.”
Cakil (catatan kecil) ki-adul 03.10.9.09.
Jumat, 18 September 2009
Tiga dasar
Hadits riwayat ad-Dhailani yang dishahihkan oleh Adz-Dzahabi, dari Ibnu Abbas, bahawa Rasulullah saw bersabda "Sendi-sendi dan dasar-dasar Islam ada 3(tiga), di atas tiga dasar itulah Islam dibangun.
Barang siapa meninggalkan salah satu dari padanya, maka kufurlah, halallah darahnya, yaitu mengetahui bahwa tidak ada tuhan selain Allah, Sholat Fardhu dan Puasa di bulan Ramadhan.
Barang siapa meninggalkan salah satu dari padanya, maka kufurlah, halallah darahnya, yaitu mengetahui bahwa tidak ada tuhan selain Allah, Sholat Fardhu dan Puasa di bulan Ramadhan.
Kamis, 20 Agustus 2009
CATATAN RAMADHAN 1430 H.
Kepada teman-teman yang saudara satu iman yang akan menjalankan puasa di bulan Ramadhan, Qi-Adul ucapkan selamat menjalan ibadah puasa, saya mohon ma’af lahir dan batin, dari hati suci, badan bersih dan jiwa yang murni, melalui dunia maya ini. Dan Saya mohon Ma’af baru kali ini membalas tulisan-tulisan di Facebook hari ini, karena kesibukan saya mau menjelang Ramadhan, sedikit kesibukan 17 Agustusan. Dan ma’af saya juga untuk membuka facebook setelah Hari Raya Idul Fitri, karena selama bulan Ramadhan tidak membuka internet (Facebook,) ma’af ya teman-teman. Kalau teman-teman mau buka bloger saya boleh saja http://d-humaniora.blogspot.com atu, d_yak.
Untuk suatu catatan kecil bagi kita untuk mengingat kembali ayat-ayat Al Qur’an yang berkenaaan dengan puasa saya tuliskan latinnya saja karena tulisan arab tidak bisa masuk dalam facebook. Hal puasa Surat Al Baqarah [2] ayat 183 s/ d 185, 187.
Ayat 183 ,yang sudah hampir semua umat Islam dengan ayat ini hafal bunyi suratnya.
(2:183)
Yaa-ayyuhal ladziina aamanuu kutiba alaikumsh shiyaamu kama kutiba alal ladziina min qablikum la’allakum tattaquun.
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana yang diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu, semoga kamu bertakwa.
(2:184)
Ayyaamam ma’duudaatin faman kaana minkum mariidhan au’alaa safarin fa’iddatum min ayyamin ukhara wa’alal ladzina yithiiqunahuu fidyatun tha’aamu miskiinin faman tathawwa’a khairan fahuwa khairul lahuu wa an tashuumuu khairul lakum in kuntum ta’lamun.
184. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[114], Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
[114] Maksudnya memberi Makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari.
(2:185)
Syahru ramadhaanal ladzii unzila fiihil qur-aanu hudal linnaasi wa bayyinaatim minal hudaa wal furqaani faman syahida min kumusy syahra falyashumhu wa man kaana mariidhan au’alaa safarin fa’iddatum min ayyaamin ukhara yuriidul lahu bikumulyusra wa laa yuriidu bikumul ‘usra wa litukmilu ‘iddata wa litukabbirul laaha ‘alaa maa hadaakum wa allikum tasykuruun.
185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
(2:187)
187. Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf[115] dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.
[115] I'tikaf ialah berada dalam mesjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah.
Dari hadits Shahih Bukhari No 932 dan 933.
932.
Dari Abu Hurairah r.a., katanya Rasulullah saw. bersabda: “Apabila datang bulan Ramadhan, dibukakan semua pintu surga.”
933.
Dari Abu Hurairah ra., katanya Rasulullah saw. bersabda :”Apabila tiba bulan Ramadhan, dibukakan pintu langit, dikunci pintu neraka dan dibelenggu semua setan.
Demikian teman-teman. Cakil (catatan kecil), ini semoga bermanfaat bagi diri penulis, maupun teman-teman.
Untuk tulisan di bulan Ramadhan dari Q-adul (penulis) ada beberapa PILIHAN sebagai berikut :
BERIKAN KAMI HIDAYAHMU DI BULAN RAMADHAN.
BULAN RAMADHAN YANG PENUH AMPUNAN.
Dalam rangka Menyambut Ramadhan
Kita tingkatkan Ukhuwah Islamiah.
BERSIHKAN DIRI, SUCIKAN HATI, DI BULAN RAMADHAN.
PELIHARA HATI, LISAN, PENDENGARAN DAN JAUHKAN DIRI DARI PERBUATAN MAKSIAT DI BULAN RAMADHAN.
MARI KITA MENNYAMBUT
BULAN RAMADHAN YANG PENUH AMPUNAN
PERTEMUKAN KAMI DI BULAN RAMADHAN
AHLAN WAH SAHLAN YA RAMADHAN
KOKOHKAN PERSAUDARAAN KAMI DI BULAN RAMADHAN
RAMADHAN YANG PENUH BAROKAH
BERSAMA RAMADHAN KITA TADARUSAN.
RAMADHAN YA RAMADHAN.
http://d-humaniora.blogspot.com.
d_yak
Pulo Gebang Permai blok H 16/32 –Cakung – Jakarta Timur
Telpon HP (021) 980 97 204.
Kepada teman-teman yang saudara satu iman yang akan menjalankan puasa di bulan Ramadhan, Qi-Adul ucapkan selamat menjalan ibadah puasa, saya mohon ma’af lahir dan batin, dari hati suci, badan bersih dan jiwa yang murni, melalui dunia maya ini. Dan Saya mohon Ma’af baru kali ini membalas tulisan-tulisan di Facebook hari ini, karena kesibukan saya mau menjelang Ramadhan, sedikit kesibukan 17 Agustusan. Dan ma’af saya juga untuk membuka facebook setelah Hari Raya Idul Fitri, karena selama bulan Ramadhan tidak membuka internet (Facebook,) ma’af ya teman-teman. Kalau teman-teman mau buka bloger saya boleh saja http://d-humaniora.blogspot.com atu, d_yak.
Untuk suatu catatan kecil bagi kita untuk mengingat kembali ayat-ayat Al Qur’an yang berkenaaan dengan puasa saya tuliskan latinnya saja karena tulisan arab tidak bisa masuk dalam facebook. Hal puasa Surat Al Baqarah [2] ayat 183 s/ d 185, 187.
Ayat 183 ,yang sudah hampir semua umat Islam dengan ayat ini hafal bunyi suratnya.
(2:183)
Yaa-ayyuhal ladziina aamanuu kutiba alaikumsh shiyaamu kama kutiba alal ladziina min qablikum la’allakum tattaquun.
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana yang diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu, semoga kamu bertakwa.
(2:184)
Ayyaamam ma’duudaatin faman kaana minkum mariidhan au’alaa safarin fa’iddatum min ayyamin ukhara wa’alal ladzina yithiiqunahuu fidyatun tha’aamu miskiinin faman tathawwa’a khairan fahuwa khairul lahuu wa an tashuumuu khairul lakum in kuntum ta’lamun.
184. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[114], Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
[114] Maksudnya memberi Makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari.
(2:185)
Syahru ramadhaanal ladzii unzila fiihil qur-aanu hudal linnaasi wa bayyinaatim minal hudaa wal furqaani faman syahida min kumusy syahra falyashumhu wa man kaana mariidhan au’alaa safarin fa’iddatum min ayyaamin ukhara yuriidul lahu bikumulyusra wa laa yuriidu bikumul ‘usra wa litukmilu ‘iddata wa litukabbirul laaha ‘alaa maa hadaakum wa allikum tasykuruun.
185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
(2:187)
187. Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf[115] dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.
[115] I'tikaf ialah berada dalam mesjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah.
Dari hadits Shahih Bukhari No 932 dan 933.
932.
Dari Abu Hurairah r.a., katanya Rasulullah saw. bersabda: “Apabila datang bulan Ramadhan, dibukakan semua pintu surga.”
933.
Dari Abu Hurairah ra., katanya Rasulullah saw. bersabda :”Apabila tiba bulan Ramadhan, dibukakan pintu langit, dikunci pintu neraka dan dibelenggu semua setan.
Demikian teman-teman. Cakil (catatan kecil), ini semoga bermanfaat bagi diri penulis, maupun teman-teman.
Untuk tulisan di bulan Ramadhan dari Q-adul (penulis) ada beberapa PILIHAN sebagai berikut :
BERIKAN KAMI HIDAYAHMU DI BULAN RAMADHAN.
BULAN RAMADHAN YANG PENUH AMPUNAN.
Dalam rangka Menyambut Ramadhan
Kita tingkatkan Ukhuwah Islamiah.
BERSIHKAN DIRI, SUCIKAN HATI, DI BULAN RAMADHAN.
PELIHARA HATI, LISAN, PENDENGARAN DAN JAUHKAN DIRI DARI PERBUATAN MAKSIAT DI BULAN RAMADHAN.
MARI KITA MENNYAMBUT
BULAN RAMADHAN YANG PENUH AMPUNAN
PERTEMUKAN KAMI DI BULAN RAMADHAN
AHLAN WAH SAHLAN YA RAMADHAN
KOKOHKAN PERSAUDARAAN KAMI DI BULAN RAMADHAN
RAMADHAN YANG PENUH BAROKAH
BERSAMA RAMADHAN KITA TADARUSAN.
RAMADHAN YA RAMADHAN.
http://d-humaniora.blogspot.com.
d_yak
Pulo Gebang Permai blok H 16/32 –Cakung – Jakarta Timur
Telpon HP (021) 980 97 204.
MANAJEMEN WAKTU DI BULAN RAMADHAN.
Sebelum Tidur Sholat tahajud 2 rakaat
Kalau sudah witir tarawih,
tidak perlu diulang
Kalau belum ditambah
witir
Sebelum sahur menjelang subuh Tilawah Qur’an, 10
menit
setelah sholat subuh tilawah Qur’an 30 menit
sesudah sholat dzuhur Tilawah Qur’an baca
tafsir dan terjemahan
30 menit
Tilawah Qur’an 15 menit
Menjelang sholat magrib Baca buku Islam 30
menit
Menjelang Tarawih Tilawah Qur’an 10 menit
Sesudah Sholat Teraweh Tilawah Qur’an 30 menit
dan Istirahat sejenak di rumah Merenungi perjalanan diri dari sahur hingga Menejelang tidur menjelang sholat subuh 10 menit zikir atau tilawah Qur’an, Bertanya pada diri kita masing masing APAKAH BANYAK MELAKUKAN HAL-HAL YANG MERUSAK IBADAH/NILAI PUASA?
APAKAH IBADAH MASIH SEDIKIT, ATAU
LAINNYA ?!.
TARGET AMAL DI BULAN RAMADHAN
YANG KALAU BISA DICAPAI
Khatam Al Qur’an minimal 1 x
Membaca tafsir/terjemahan Al QAur’an,
minimal 1/3 Al Qur’an
Sholat lima waktu dengan berjamaah
Sholat sunat/rawatir, minimal yang mua’kad
Memberi buka ORANG YANG BERPUASA
minimal 1 x dalam bulan Ramadhan
Berinfaq setiap hari (seadanya).
I’tikaf, minimal sehari
Evaluasi amal setiap hari
Membaca buku Islam, minimal 1 buku
(Bedah buku minimal 1 buku)
Sebelum Tidur Sholat tahajud 2 rakaat
Kalau sudah witir tarawih,
tidak perlu diulang
Kalau belum ditambah
witir
Sebelum sahur menjelang subuh Tilawah Qur’an, 10
menit
setelah sholat subuh tilawah Qur’an 30 menit
sesudah sholat dzuhur Tilawah Qur’an baca
tafsir dan terjemahan
30 menit
Tilawah Qur’an 15 menit
Menjelang sholat magrib Baca buku Islam 30
menit
Menjelang Tarawih Tilawah Qur’an 10 menit
Sesudah Sholat Teraweh Tilawah Qur’an 30 menit
dan Istirahat sejenak di rumah Merenungi perjalanan diri dari sahur hingga Menejelang tidur menjelang sholat subuh 10 menit zikir atau tilawah Qur’an, Bertanya pada diri kita masing masing APAKAH BANYAK MELAKUKAN HAL-HAL YANG MERUSAK IBADAH/NILAI PUASA?
APAKAH IBADAH MASIH SEDIKIT, ATAU
LAINNYA ?!.
TARGET AMAL DI BULAN RAMADHAN
YANG KALAU BISA DICAPAI
Khatam Al Qur’an minimal 1 x
Membaca tafsir/terjemahan Al QAur’an,
minimal 1/3 Al Qur’an
Sholat lima waktu dengan berjamaah
Sholat sunat/rawatir, minimal yang mua’kad
Memberi buka ORANG YANG BERPUASA
minimal 1 x dalam bulan Ramadhan
Berinfaq setiap hari (seadanya).
I’tikaf, minimal sehari
Evaluasi amal setiap hari
Membaca buku Islam, minimal 1 buku
(Bedah buku minimal 1 buku)
Kamis, 06 Agustus 2009
YASIN
ANEKDOT
YASINAN Ki Adul
Yaasin nama surat dalam Al Qur’an, Kata terjemahan atau artinya dari surat yang ada di surat ke 36 itu terdiri dari 83 ayat Makkiyyah yang hampir umat Islam hapal dimulut dan hampir lancar membacanya , tapi tidak begitu banyak hapal artinya. Surat Yaasiin yang hampir dibaca oleh umat /orang muslim pada malam Jum’at, tahlilan ketika ada orang yang meninggal, kadang dibaca pada saat acara pemberangkatan haji, mencukur rambut ,pindah rumah, sukuran/selamatan mendapat rejeki yang banyak atau rasa sukur selamat dari mara bahaya atau sukuran sembuh dari sakit, kadang acara minta doa karena besok mau sunatan, atau doa untuk besok mau nikah, doa pada saat jiarah kubur dan lain lain sebagainya, ada lagi mengajarkan untuk baca yasin misal ketika bangun malam hari, atau dibaca setiap malam.
Jika perlu setiap pagi dan siang. Janji-janji membaca Yaasiin sangat banyak sekali
Seperti janji yang penulis catat dibawah ini.
Janji-janji yang ditulis oleh Hadits itu Haditsnya adalah lemah. Tapi banyak saja orang memburunya seperti janji :
1. barang siapa yang membaca surat Yaasiin dalam satu malam, maka ketika bangun pagi hari diampuni dosanya.
2. Barang siapa terus menerus baca yasin pada setiap malam kemudian ia mati, maka ia mati syahid
3. Barang siap membaca surat Yaasiin di pagi hari, maka terpenuhi semua hajatnya.
4. Barang siapa membaca surat Yaasiin 1 x seolah membaca Al Qur’an 2 x
5. Barang siapa membaca surat Yaasiin 1x ia telah membaca al Qur’an sepuluh x
6. Barang siapa membaca surat Yaasiin setiap malam niscaya diampuni dosanya.
7. Barang siapa mendengar bacaan surat Yaasiin, ia akan diberi ganjaran 20 Dinar di jalan Allah.
8. Surat Yaasiin itu banyak memberi manfaat
9. Surat yaasiin itu hatinya Al Qur’an
10. Membaca surat yaasin mendapat tambahan ilmu kekuatan.
11. Membaca surat yaasiin disebuhkan dari segala penyakit.
Dan banyak lagi. Disini penulis akan berceritera tentang sedikt surat Yaasiin.
Cerita anekdot ini di dapat dari ceritera seorang Ustadz kepada saya. Ia menceriterakan ada saudagar kaya yang kalau berniaga sangat jauh, kadang melewati darerah yang sangat banyak perampoknya, kalau dahulu dinamakan banyak begalnya. Siapa saja yang lewat situ pasti habis hartanya, jika melawan malah habis hartanya juga nyawanya.
Tapi hendak apa dikata untuk berniaga yang mendapatkan leboh banyak untungnya dan lebih menjual dan membeli sesuatu di daerah yang harus dilalui banyak begalnya mau dibilang apa?.
Pada suata saat sudagar kaya itu juga harus melewati daerah tersebut. Dan kenyataan itu ada, dan rombongan Saudagar dihentkan oleh kawanan perampok,
Lalu kepala perampok memberhentikan saudagar kaya itu untruk dirampok.
Begitu takutnya dan bingungnya Sudagar kaya akan tampang perampok dan takutnya lagi harta harta yang akan dirampok. Lalu Saudgar ingat akan surat Yaasiin yang sering dibacanya setiap malam dan begitu hafal surat Yasiin. Dan Sudagar kaya ingat akan surat itu barang kali bisa menguatkan hati dan rasa takut yang berlebihan.
Dibacanya Surat Yasiin yang diotak begitu hafal mengapa mengahadai perampok ini, lidahnya menjadi kelu dan begitu juga hapapalanya kok bisa hilang dan yang dimulutnya hanya bisa berkata dengan terbata bata.
“Yaa yaa siin !.” begitu kata yang keluar dari mulutnya.
Diluar dugaan, perampok yang mukanya seram itu alias komandannya, memberikan aba-aba dengan berkata.
“Cabut {mungkin kalau sekarang berkata balik}, tidak jadi merampok rombongan ini.”
Rekan-rekan yang seprofesi bingung melihat pemimpinya tidak jadi merampok rombongan ini. Walau dalam hatinya masing-masing berkata.
“Ada pa ini kok tidak jadi, padahal mangsa ini banyak hartanya untuk dirampok”
Berhubung ini adalah intruksi sang pemimpin mau tidak mau dituruti.
Tapi ada satu teman yang memberanikan diri, lalu ia bertanya pada pemimpinnya.
“Kenapa bos kita tidak Jadi rampok orang itu, padahaal hartanya banyak?” tanyanya kepada bosnya.
Bospun menjawab pertanyaan salah satu anak buahnya.
“Dalam seumur hidup gua jadi rampok baru kali ini ada orang yang tahu nama gua, Yaasiin, mungking dia pasti teman bapak gua, maka gua tidak tega merampoknya.” Jawab sang pemimpin rampok.
Surat Yaasiin penolong atau kebetulan atau kalau Alloh sudah mau berkehendak tidaklah sulit menolaknya.
25.07.08
Anekdot kI Adul
KEPADA ALLOH
SMS {SERING MEMBACA SELAWAT}
Salah satu ustadz mengajak kita semua umat muslim yang mempergunakan HP jangan hanya bisa kirim SMS ke teman teman atau kenalan atau pacar atau selingkuhan atau istri dirumah yang lain atau pada teman yang disuka dan ada teman yang tidak disuka alias dibenci atau mereka yang hanya berani ngomel,. mereka berani berkata kasar melaui SMS.
Ada SMS yang santun ada SMS yang kasar ada SMS yang sampah yang bisanya melecehkan orang ada SMS yang Cuma turut duka cita, yang beritanya selalu disiapkan untuk berita duka cita, jika ada teman atau kerabatnya ada yang meninggal, maka sms yang sudah diprogram ke nomor yang sudah dicatat itu langsung menyebar seketika. Dan ada lagi SMS yang sukanya menteror dan sifatnya suka mengancam dan lain lain.
Pernah penulis mendapat SMS dengan kata-kata cukup mengejutkan. Ia mengucapkan turut duka cita kepada penulis, atas ditinggalnya penulis oleh Ustadz yang hekang dari tempat saya, tempat penulis belajar mengaji.
Kata-kata SMS nya sebagai berikut.
“Turut duka cita Ustadz anda sudah keluar dari tempat anda belajar”
.
“Kok ada ada aja yang kata katanya kok lucu.” komentarku yang sedikit sewot.
“ Seperti tidak ada kerjaan lain, Atau baru bisa SMS. Barangkali” pikirku.
Disini Selawatan atau membaca Selawat atau berjanji yang sering banyak ibu-ibu pengajian atau majelis taklim , ketika acara sunatan , anak baru lahir, ketika akan memulai ngaji, pengantar pergi ngaji atau ngaji rutin bulanan dan sebagianya yang kamu bisa dibuka dedngan selawatan yah selawatan dahulu.
Nah pesni ini yang diampaikan uoleh salah satu ustadz kondang mengatakan
“Kita jangan hanya bisa SMS ke orang dong, sekali kali atau sering seringlah SMS kepada Alloh yang maksudnya {sering-membaca selawat untuk Allah} yang dilakukan kapan saja dimana saja atau ketika kita sedang meninabobokan anak kita bayi kita maka baca selawat.
Ada suatu ceritera serorang ibu yang rajin sekali membaca selawat, apalagi kalau lagi menidurkan bayinya di ayunan ia mengayunkan anaknya dengan membaca selawat dan anak itu cepat tidurnya mendengar ibunya membaca selawat.
Alkisah suami ibu itu atau bapaknya anak tersebut rasa rasanya ingin diayun ayun sambil dibacakan selawat. Maka dibuatlah ayunan yang dengan tambang yang lebih kuat dan kain ayunan yang lebih tebal dan kuat, dan sang suamipun mulai diayun oleh istrinya dan sang suamipun cepat tidur, karena sang suami mendengar bacaan-bacaan selawat istrinya yang suaranya cukup dinikmati ditelinganya lelaplah ia.
Dengan kisah itu, ada seorang yang ingin mau mencuri isi rumah tersebut, dan diintipnya rumah tersebut, dilihatnya ada ayunan yang sedang diayun oleh seorang perempuan, ayunan itu besar sekali dan melihat ibunya yang sedang mengayun ayunkan sambil membaca selawat
Lalu sang pencuru berpikir.
“ Sebesar apa bapaknya kalau bayinya saja sebesar itu?.”
Akhirnya sang pencuri tidak jadi mencuri karena takut kalau bapaknya bangun dan menghajar dirinya.
Membayangkan besarnya segede apa bapaknya.
Akhirnya Pencurian tidak jadi karena, apakah melihat bayi alias suami yang sedang diayun atau karena mendengar bacaan selawat yang enak didengarnya atau Alloh selalu melindungi umatnya yang membaca selawat. Alloh maha tahu maha kasih maha penyayang. Jika Alloh berhendak bisa saja dengan cara apapun dengan jalan apapun..
25.07.08
YASINAN Ki Adul
Yaasin nama surat dalam Al Qur’an, Kata terjemahan atau artinya dari surat yang ada di surat ke 36 itu terdiri dari 83 ayat Makkiyyah yang hampir umat Islam hapal dimulut dan hampir lancar membacanya , tapi tidak begitu banyak hapal artinya. Surat Yaasiin yang hampir dibaca oleh umat /orang muslim pada malam Jum’at, tahlilan ketika ada orang yang meninggal, kadang dibaca pada saat acara pemberangkatan haji, mencukur rambut ,pindah rumah, sukuran/selamatan mendapat rejeki yang banyak atau rasa sukur selamat dari mara bahaya atau sukuran sembuh dari sakit, kadang acara minta doa karena besok mau sunatan, atau doa untuk besok mau nikah, doa pada saat jiarah kubur dan lain lain sebagainya, ada lagi mengajarkan untuk baca yasin misal ketika bangun malam hari, atau dibaca setiap malam.
Jika perlu setiap pagi dan siang. Janji-janji membaca Yaasiin sangat banyak sekali
Seperti janji yang penulis catat dibawah ini.
Janji-janji yang ditulis oleh Hadits itu Haditsnya adalah lemah. Tapi banyak saja orang memburunya seperti janji :
1. barang siapa yang membaca surat Yaasiin dalam satu malam, maka ketika bangun pagi hari diampuni dosanya.
2. Barang siapa terus menerus baca yasin pada setiap malam kemudian ia mati, maka ia mati syahid
3. Barang siap membaca surat Yaasiin di pagi hari, maka terpenuhi semua hajatnya.
4. Barang siapa membaca surat Yaasiin 1 x seolah membaca Al Qur’an 2 x
5. Barang siapa membaca surat Yaasiin 1x ia telah membaca al Qur’an sepuluh x
6. Barang siapa membaca surat Yaasiin setiap malam niscaya diampuni dosanya.
7. Barang siapa mendengar bacaan surat Yaasiin, ia akan diberi ganjaran 20 Dinar di jalan Allah.
8. Surat Yaasiin itu banyak memberi manfaat
9. Surat yaasiin itu hatinya Al Qur’an
10. Membaca surat yaasin mendapat tambahan ilmu kekuatan.
11. Membaca surat yaasiin disebuhkan dari segala penyakit.
Dan banyak lagi. Disini penulis akan berceritera tentang sedikt surat Yaasiin.
Cerita anekdot ini di dapat dari ceritera seorang Ustadz kepada saya. Ia menceriterakan ada saudagar kaya yang kalau berniaga sangat jauh, kadang melewati darerah yang sangat banyak perampoknya, kalau dahulu dinamakan banyak begalnya. Siapa saja yang lewat situ pasti habis hartanya, jika melawan malah habis hartanya juga nyawanya.
Tapi hendak apa dikata untuk berniaga yang mendapatkan leboh banyak untungnya dan lebih menjual dan membeli sesuatu di daerah yang harus dilalui banyak begalnya mau dibilang apa?.
Pada suata saat sudagar kaya itu juga harus melewati daerah tersebut. Dan kenyataan itu ada, dan rombongan Saudagar dihentkan oleh kawanan perampok,
Lalu kepala perampok memberhentikan saudagar kaya itu untruk dirampok.
Begitu takutnya dan bingungnya Sudagar kaya akan tampang perampok dan takutnya lagi harta harta yang akan dirampok. Lalu Saudgar ingat akan surat Yaasiin yang sering dibacanya setiap malam dan begitu hafal surat Yasiin. Dan Sudagar kaya ingat akan surat itu barang kali bisa menguatkan hati dan rasa takut yang berlebihan.
Dibacanya Surat Yasiin yang diotak begitu hafal mengapa mengahadai perampok ini, lidahnya menjadi kelu dan begitu juga hapapalanya kok bisa hilang dan yang dimulutnya hanya bisa berkata dengan terbata bata.
“Yaa yaa siin !.” begitu kata yang keluar dari mulutnya.
Diluar dugaan, perampok yang mukanya seram itu alias komandannya, memberikan aba-aba dengan berkata.
“Cabut {mungkin kalau sekarang berkata balik}, tidak jadi merampok rombongan ini.”
Rekan-rekan yang seprofesi bingung melihat pemimpinya tidak jadi merampok rombongan ini. Walau dalam hatinya masing-masing berkata.
“Ada pa ini kok tidak jadi, padahal mangsa ini banyak hartanya untuk dirampok”
Berhubung ini adalah intruksi sang pemimpin mau tidak mau dituruti.
Tapi ada satu teman yang memberanikan diri, lalu ia bertanya pada pemimpinnya.
“Kenapa bos kita tidak Jadi rampok orang itu, padahaal hartanya banyak?” tanyanya kepada bosnya.
Bospun menjawab pertanyaan salah satu anak buahnya.
“Dalam seumur hidup gua jadi rampok baru kali ini ada orang yang tahu nama gua, Yaasiin, mungking dia pasti teman bapak gua, maka gua tidak tega merampoknya.” Jawab sang pemimpin rampok.
Surat Yaasiin penolong atau kebetulan atau kalau Alloh sudah mau berkehendak tidaklah sulit menolaknya.
25.07.08
Anekdot kI Adul
KEPADA ALLOH
SMS {SERING MEMBACA SELAWAT}
Salah satu ustadz mengajak kita semua umat muslim yang mempergunakan HP jangan hanya bisa kirim SMS ke teman teman atau kenalan atau pacar atau selingkuhan atau istri dirumah yang lain atau pada teman yang disuka dan ada teman yang tidak disuka alias dibenci atau mereka yang hanya berani ngomel,. mereka berani berkata kasar melaui SMS.
Ada SMS yang santun ada SMS yang kasar ada SMS yang sampah yang bisanya melecehkan orang ada SMS yang Cuma turut duka cita, yang beritanya selalu disiapkan untuk berita duka cita, jika ada teman atau kerabatnya ada yang meninggal, maka sms yang sudah diprogram ke nomor yang sudah dicatat itu langsung menyebar seketika. Dan ada lagi SMS yang sukanya menteror dan sifatnya suka mengancam dan lain lain.
Pernah penulis mendapat SMS dengan kata-kata cukup mengejutkan. Ia mengucapkan turut duka cita kepada penulis, atas ditinggalnya penulis oleh Ustadz yang hekang dari tempat saya, tempat penulis belajar mengaji.
Kata-kata SMS nya sebagai berikut.
“Turut duka cita Ustadz anda sudah keluar dari tempat anda belajar”
.
“Kok ada ada aja yang kata katanya kok lucu.” komentarku yang sedikit sewot.
“ Seperti tidak ada kerjaan lain, Atau baru bisa SMS. Barangkali” pikirku.
Disini Selawatan atau membaca Selawat atau berjanji yang sering banyak ibu-ibu pengajian atau majelis taklim , ketika acara sunatan , anak baru lahir, ketika akan memulai ngaji, pengantar pergi ngaji atau ngaji rutin bulanan dan sebagianya yang kamu bisa dibuka dedngan selawatan yah selawatan dahulu.
Nah pesni ini yang diampaikan uoleh salah satu ustadz kondang mengatakan
“Kita jangan hanya bisa SMS ke orang dong, sekali kali atau sering seringlah SMS kepada Alloh yang maksudnya {sering-membaca selawat untuk Allah} yang dilakukan kapan saja dimana saja atau ketika kita sedang meninabobokan anak kita bayi kita maka baca selawat.
Ada suatu ceritera serorang ibu yang rajin sekali membaca selawat, apalagi kalau lagi menidurkan bayinya di ayunan ia mengayunkan anaknya dengan membaca selawat dan anak itu cepat tidurnya mendengar ibunya membaca selawat.
Alkisah suami ibu itu atau bapaknya anak tersebut rasa rasanya ingin diayun ayun sambil dibacakan selawat. Maka dibuatlah ayunan yang dengan tambang yang lebih kuat dan kain ayunan yang lebih tebal dan kuat, dan sang suamipun mulai diayun oleh istrinya dan sang suamipun cepat tidur, karena sang suami mendengar bacaan-bacaan selawat istrinya yang suaranya cukup dinikmati ditelinganya lelaplah ia.
Dengan kisah itu, ada seorang yang ingin mau mencuri isi rumah tersebut, dan diintipnya rumah tersebut, dilihatnya ada ayunan yang sedang diayun oleh seorang perempuan, ayunan itu besar sekali dan melihat ibunya yang sedang mengayun ayunkan sambil membaca selawat
Lalu sang pencuru berpikir.
“ Sebesar apa bapaknya kalau bayinya saja sebesar itu?.”
Akhirnya sang pencuri tidak jadi mencuri karena takut kalau bapaknya bangun dan menghajar dirinya.
Membayangkan besarnya segede apa bapaknya.
Akhirnya Pencurian tidak jadi karena, apakah melihat bayi alias suami yang sedang diayun atau karena mendengar bacaan selawat yang enak didengarnya atau Alloh selalu melindungi umatnya yang membaca selawat. Alloh maha tahu maha kasih maha penyayang. Jika Alloh berhendak bisa saja dengan cara apapun dengan jalan apapun..
25.07.08
Rabu, 05 Agustus 2009
Ta’aruf Syar’i, Solusi Pengganti Pacaran
Pertanyaan:
1. Apabila seorang muslim ingin menikah, bagaimana syariat mengatur cara mengenal seorang muslimah sementara pacaran terlarang dalam Islam?
2. Bagaimana hukum berkunjung ke rumah akhwat (wanita) yang hendak dinikahi dengan tujuan untuk saling mengenal karakter dan sifat masing-masing?
3. Bagaimana hukum seorang ikhwan (lelaki) mengungkapkan perasaannya (sayang atau cinta) kepada akhwat (wanita) calon istrinya?
Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari:
بِسْمِ اللهِ، الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ
Benar sekali pernyataan anda bahwa pacaran adalah haram dalam Islam. Pacaran adalah budaya dan peradaban jahiliah yang dilestarikan oleh orang-orang kafir negeri Barat dan lainnya, kemudian diikuti oleh sebagian umat Islam (kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala), dengan dalih mengikuti perkembangan jaman dan sebagai cara untuk mencari dan memilih pasangan hidup. Syariat Islam yang agung ini datang dari Rabb semesta alam Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, dengan tujuan untuk membimbing manusia meraih maslahat-maslahat kehidupan dan menjauhkan mereka dari mafsadah-mafsadah yang akan merusak dan menghancurkan kehidupan mereka sendiri.
Ikhtilath (campur baur antara lelaki dan wanita yang bukan mahram), pergaulan bebas, dan pacaran adalah fitnah (cobaan) dan mafsadah bagi umat manusia secara umum, dan umat Islam secara khusus, maka perkara tersebut tidak bisa ditolerir. Bukankah kehancuran Bani Israil –bangsa yang terlaknat– berawal dari fitnah (godaan) wanita? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لُعِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُوْنَ. كَانُوا لاَ يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوْهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُوْنَ
“Telah terlaknat orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil melalui lisan Nabi Dawud dan Nabi ‘Isa bin Maryam. Hal itu dikarenakan mereka bermaksiat dan melampaui batas. Adalah mereka tidak saling melarang dari kemungkaran yang mereka lakukan. Sangatlah jelek apa yang mereka lakukan.” (Al-Ma`idah: 79-78)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (indah memesona), dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kalian sebagai khalifah (penghuni) di atasnya, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerhatikan amalan kalian. Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan wanita, karena sesungguhnya awal fitnah (kehancuran) Bani Israil dari kaum wanita.” (HR. Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan umatnya untuk berhati-hati dari fitnah wanita, dengan sabda beliau:
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلىَ الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Tidaklah aku meninggalkan fitnah sepeninggalku yang lebih berbahaya terhadap kaum lelaki dari fitnah (godaan) wanita.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma)
Maka, pacaran berarti menjerumuskan diri dalam fitnah yang menghancurkan dan menghinakan, padahal semestinya setiap orang memelihara dan menjauhkan diri darinya. Hal itu karena dalam pacaran terdapat berbagai kemungkaran dan pelanggaran syariat sebagai berikut:
1. Ikhtilath, yaitu bercampur baur antara lelaki dan wanita yang bukan mahram. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjauhkan umatnya dari ikhtilath, sekalipun dalam pelaksanaan shalat. Kaum wanita yang hadir pada shalat berjamaah di Masjid Nabawi ditempatkan di bagian belakang masjid. Dan seusai shalat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiam sejenak, tidak bergeser dari tempatnya agar kaum lelaki tetap di tempat dan tidak beranjak meninggalkan masjid, untuk memberi kesempatan jamaah wanita meninggalkan masjid terlebih dahulu sehingga tidak berpapasan dengan jamaah lelaki. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha dalam Shahih Al-Bukhari. Begitu pula pada hari Ied, kaum wanita disunnahkan untuk keluar ke mushalla (tanah lapang) menghadiri shalat Ied, namun mereka ditempatkan di mushalla bagian belakang, jauh dari shaf kaum lelaki. Sehingga ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam usai menyampaikan khutbah, beliau perlu mendatangi shaf mereka untuk memberikan khutbah khusus karena mereka tidak mendengar khutbah tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu dalam Shahih Muslim.
Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرِهَا، وَخَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا
“Sebaik-baik shaf lelaki adalah shaf terdepan dan sejelek-jeleknya adalah shaf terakhir. Dan sebaik-baik shaf wanita adalah shaf terakhir, dan sejelek-jeleknya adalah shaf terdepan.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Hal itu dikarenakan dekatnya shaf terdepan wanita dari shaf terakhir lelaki sehingga merupakan shaf terjelek, dan jauhnya shaf terakhir wanita dari shaf terdepan lelaki sehingga merupakan shaf terbaik. Apabila pada ibadah shalat yang disyariatkan secara berjamaah, maka bagaimana kiranya jika di luar ibadah? Kita mengetahui bersama, dalam keadaan dan suasana ibadah tentunya seseorang lebih jauh dari perkara-perkara yang berhubungan dengan syahwat. Maka bagaimana sekiranya ikhtilath itu terjadi di luar ibadah? Sedangkan setan bergerak dalam tubuh Bani Adam begitu cepatnya mengikuti peredaran darah . Bukankah sangat ditakutkan terjadinya fitnah dan kerusakan besar karenanya?” (Lihat Fatawa An-Nazhar wal Khalwah wal Ikhtilath, hal. 45)
Subhanallah. Padahal wanita para shahabat keluar menghadiri shalat dalam keadaan berhijab syar’i dengan menutup seluruh tubuhnya –karena seluruh tubuh wanita adalah aurat– sesuai perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Ahzab ayat 59 dan An-Nur ayat 31, tanpa melakukan tabarruj karena Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang mereka melakukan hal itu dalam surat Al-Ahzab ayat 33, juga tanpa memakai wewangian berdasarkan larangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, dan yang lainnya :
وَلْيَخْرُجْنَ وَهُنَّ تَفِلاَتٌ
“Hendaklah mereka keluar tanpa memakai wewangian.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang siapa saja dari mereka yang berbau harum karena terkena bakhur untuk untuk hadir shalat berjamaah sebagaimana dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 53:
وَإِذَا سَأَلْتُمُوْهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوْهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوْبِكُمْ وَقُلُوْبِهِنَّ
“Dan jika kalian (para shahabat) meminta suatu hajat (kebutuhan) kepada mereka (istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka mintalah dari balik hijab. Hal itu lebih bersih (suci) bagi kalbu kalian dan kalbu mereka.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan mereka berinteraksi sesuai tuntutan hajat dari balik hijab dan tidak boleh masuk menemui mereka secara langsung. Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata: “Maka tidak dibenarkan seseorang mengatakan bahwa lebih bersih dan lebih suci bagi para shahabat dan istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan bagi generasi-generasi setelahnya tidaklah demikian. Tidak diragukan lagi bahwa generasi-generasi setelah shahabat justru lebih butuh terhadap hijab dibandingkan para shahabat, karena perbedaan yang sangat jauh antara mereka dalam hal kekuatan iman dan ilmu. Juga karena persaksian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap para shahabat, baik lelaki maupun wanita, termasuk istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri bahwa mereka adalah generasi terbaik setelah para nabi dan rasul, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Demikian pula, dalil-dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah menunjukkan berlakunya suatu hukum secara umum meliputi seluruh umat dan tidak boleh mengkhususkannya untuk pihak tertentu saja tanpa dalil.” (Lihat Fatawa An-Nazhar, hal. 11-10)
Pada saat yang sama, ikhtilath itu sendiri menjadi sebab yang menjerumuskan mereka untuk berpacaran, sebagaimana fakta yang kita saksikan berupa akibat ikhtilath yang terjadi di sekolah, instansi-instansi pemerintah dan swasta, atau tempat-tempat yang lainnya. Wa ilallahil musytaka (Dan hanya kepada Allah kita mengadu)
2. Khalwat, yaitu berduaannya lelaki dan wanita tanpa mahram. Padahal Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالدُّخُوْلَ عَلىَ النِّسَاءِ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ اْلأَنْصَارِ: أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ؟ قَالَ: الْحَمْوُ الْمَوْتُ
“Hati-hatilah kalian dari masuk menemui wanita.” Seorang lelaki dari kalangan Anshar berkata: “Bagaimana pendapatmu dengan kerabat suami? ” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mereka adalah kebinasaan.” (Muttafaq ‘alaih, dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ
“Jangan sekali-kali salah seorang kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali bersama mahram.” (Muttafaq ‘alaih, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma)
Hal itu karena tidaklah terjadi khalwat kecuali setan bersama keduanya sebagai pihak ketiga, sebagaimana dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلاَ يَخْلُوَنَّ بِامْرَأَةٍ لَيْسَ مَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ مِنْهَا فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan sekali-kali dia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa disertai mahramnya, karena setan akan menyertai keduanya.” (HR. Ahmad)
3. Berbagai bentuk perzinaan anggota tubuh yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
كُتِبَ عَلىَ ابْنِ آدَمَ نَصِيْبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ: الْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَاْلأُذُنَانِ زِنَاهُمَا اْلاِسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ، وَالْيَدُ زِنَاهُ الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهُ الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ أَوْ يُكَذِّبُهُ
“Telah ditulis bagi setiap Bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah(lisan) zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, sementara kalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluan lah yang membenarkan atau mendustakan.”
Hadits ini menunjukkan bahwa memandang wanita yang tidak halal untuk dipandang meskipun tanpa syahwat adalah zina mata . Mendengar ucapan wanita (selain istri) dalam bentuk menikmati adalah zina telinga. Berbicara dengan wanita (selain istrinya) dalam bentuk menikmati atau menggoda dan merayunya adalah zina lisan. Menyentuh wanita yang tidak dihalalkan untuk disentuh baik dengan memegang atau yang lainnya adalah zina tangan. Mengayunkan langkah menuju wanita yang menarik hatinya atau menuju tempat perzinaan adalah zina kaki. Sementara kalbu berkeinginan dan mengangan-angankan wanita yang memikatnya, maka itulah zina kalbu. Kemudian boleh jadi kemaluannya mengikuti dengan melakukan perzinaan yang berarti kemaluannya telah membenarkan; atau dia selamat dari zina kemaluan yang berarti kemaluannya telah mendustakan. (Lihat Syarh Riyadhis Shalihin karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, pada syarah hadits no. 16 22)
Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيْلاً
“Dan janganlah kalian mendekati perbuatan zina, sesungguhnya itu adalah perbuatan nista dan sejelek-jelek jalan.” (Al-Isra`: 32)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حِدِيْدٍ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ
“Demi Allah, sungguh jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum dari besi, maka itu lebih baik dari menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 226)
Meskipun sentuhan itu hanya sebatas berjabat tangan maka tetap tidak boleh. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
وَلاَ وَاللهِ مَا مَسَّتْ يَدُ رَسُوْلِ اللهِ يَدَ امْرَأَةٍ قَطُّ غَيْرَ أَنَّهُ يُبَايِعُهُنَّ بِالْكَلاَمِ
“Tidak. Demi Allah, tidak pernah sama sekali tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyentuh tangan wanita (selain mahramnya), melainkan beliau membai’at mereka dengan ucapan (tanpa jabat tangan).” (HR. Muslim)
Demikian pula dengan pandangan, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman dalam surat An-Nur ayat 31-30:
قُلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوْجَهُمْ – إِلَى قَوْلِهِ تَعَلَى – وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ ...
“Katakan (wahai Nabi) kepada kaum mukminin, hendaklah mereka menjaga pandangan serta kemaluan mereka (dari halhal yang diharamkan) –hingga firman-Nya- Dan katakan pula kepada kaum mukminat, hendaklah mereka menjaga pandangan serta kemaluan mereka (dari hal-hal yang diharamkan)….”
Dalam Shahih Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata:
سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظْرِ الْفَجْأَةِ؟ فَقَالَ: اصْرِفْ بَصَرَكَ
“Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang tiba-tiba (tanpa sengaja)? Maka beliau bersabda: ‘Palingkan pandanganmu’.”
Adapun suara dan ucapan wanita, pada asalnya bukanlah aurat yang terlarang. Namun tidak boleh bagi seorang wanita bersuara dan berbicara lebih dari tuntutan hajat (kebutuhan), dan tidak boleh melembutkan suara. Demikian juga dengan isi pembicaraan, tidak boleh berupa perkara-perkara yang membangkitkan syahwat dan mengundang fitnah. Karena bila demikian maka suara dan ucapannya menjadi aurat dan fitnah yang terlarang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَعْرُوْفًا
“Maka janganlah kalian (para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berbicara dengan suara yang lembut, sehingga lelaki yang memiliki penyakit dalam kalbunya menjadi tergoda dan ucapkanlah perkataan yang ma’ruf (baik).” (Al-Ahzab: 32)
Adalah para wanita datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di sekitar beliau hadir para shahabatnya, lalu wanita itu berbicara kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepentingannya dan para shahabat ikut mendengarkan. Tapi mereka tidak berbicara lebih dari tuntutan hajat dan tanpa melembutkan suara.
Dengan demikian jelaslah bahwa pacaran bukanlah alternatif yang ditolerir dalam Islam untuk mencari dan memilih pasangan hidup. Menjadi jelas pula bahwa tidak boleh mengungkapkan perasaan sayang atau cinta kepada calon istri selama belum resmi menjadi istri. Baik ungkapan itu secara langsung atau lewat telepon, ataupun melalui surat. Karena saling mengungkapkan perasaan cinta dan sayang adalah hubungan asmara yang mengandung makna pacaran yang akan menyeret ke dalam fitnah. Demikian pula halnya berkunjung ke rumah calon istri atau wanita yang ingin dilamar dan bergaul dengannya dalam rangka saling mengenal karakter dan sifat masing-masing, karena perbuatan seperti ini juga mengandung makna pacaran yang akan menyeret ke dalam fitnah. Wallahul musta’an (Allah-lah tempat meminta pertolongan).
Adapun cara yang ditunjukkan oleh syariat untuk mengenal wanita yang hendak dilamar adalah dengan mencari keterangan tentang yang bersangkutan melalui seseorang yang mengenalnya, baik tentang biografi (riwayat hidup), karakter, sifat, atau hal lainnya yang dibutuhkan untuk diketahui demi maslahat pernikahan. Bisa pula dengan cara meminta keterangan kepada wanita itu sendiri melalui perantaraan seseorang seperti istri teman atau yang lainnya. Dan pihak yang dimintai keterangan berkewajiban untuk menjawab seobyektif mungkin, meskipun harus membuka aib wanita tersebut karena ini bukan termasuk dalam kategori ghibah yang tercela. Hal ini termasuk dari enam perkara yang dikecualikan dari ghibah, meskipun menyebutkan aib seseorang. Demikian pula sebaliknya dengan pihak wanita yang berkepentingan untuk mengenal lelaki yang berhasrat untuk meminangnya, dapat menempuh cara yang sama.
Dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits Fathimah bintu Qais ketika dilamar oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm, lalu dia minta nasehat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau bersabda:
أَمَّا أَبُو جَهْمٍ فَلاَ يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتِقِهِ، وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوْكٌ لاَ مَالَ لَهُ، انْكِحِي أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ
“Adapun Abu Jahm, maka dia adalah lelaki yang tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya . Adapun Mu’awiyah, dia adalah lelaki miskin yang tidak memiliki harta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid.” (HR. Muslim)
Para ulama juga menyatakan bolehnya berbicara secara langsung dengan calon istri yang dilamar sesuai dengan tuntunan hajat dan maslahat. Akan tetapi tentunya tanpa khalwat dan dari balik hijab. Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (130-129/5 cetakan Darul Atsar) berkata: “Bolehnya berbicara dengan calon istri yang dilamar wajib dibatasi dengan syarat tidak membangkitkan syahwat atau tanpa disertai dengan menikmati percakapan tersebut. Jika hal itu terjadi maka hukumnya haram, karena setiap orang wajib menghindar dan menjauh dari fitnah.”
Perkara ini diistilahkan dengan ta’aruf. Adapun terkait dengan hal-hal yang lebih spesifik yaitu organ tubuh, maka cara yang diajarkan adalah dengan melakukan nazhor, yaitu melihat wanita yang hendak dilamar. Nazhor memiliki aturan-aturan dan persyaratan-persyaratan yang membutuhkan pembahasan khusus .
Agama dan Ilmu Pengetahuan untuk Mentauhidkan Allah
Pernah terucap sebuah pertanyaan :”Bagaimana cara kita memadukan pemahaman agama dan ilmu pengetahuan?Bisakah disinkronkan?”
Pertanyaan ini memiliki kekeliruan yang sangat mendasar. Karena sesungguhnya di dalam Al Qur’an Allah tidak pernah membeda – bedakan, apalagi memisah – misahkan antara syariat dan ilmu pengetahuan. Kedua – duanya menyatu di dalam informasi Al Qur’an dalam konteks mentauhidkan Allah, yaitu memahami eksistensi-Nya. Mengenal-Nya. Berinteraksi dengan Dzat Yang Maha Agung itu, dan akhirnya ’bersatu’ dalam kebesaran-Nya.
Hampir di setiap halaman Al Qur’an yang kita buka, selalu ada informasi – informasi ilmu pengetahuan. Dan yang menarik, informasi ilmu pengetahuan itu bukan sekedar digunakan untuk mengembangkan ilmu itu sendiri, melainkan bertujuan utama untuk mentauhidkan Allah. Artinya, semakin tinggi ilmu yang kita peroleh dari fakta empirik di sekitar kita, maka efeknya harus membawa kita semakin terkagum – kagum oleh kehebatan Allah Yang Maha Esa. Bukan sebaliknya, menjadi sombong dan mengingkari Allah.
Memisahkan dan membeda – bedakan fakta yang ada di sekitar kita, sebenarnya tidak lebih hanyalah pekerjaan manusia, dikarenakan keterbatasannya saja. Bagi Allah fakta ini adalah tunggal. Tidak ada bedanya agama dan ilmu pengentahuan, karena kedua – duanya adalah ayat – ayat Allah juga. Ilmu pengetahuan tersebar di alam semesta, dan syariat tercakup di dalam Al Qur’an. Apa pun yang kita lakukan, dan dari sisi mana pun kita melakukan pendekatan kepada Allah, pasti kita akan bertemu dengan Allah. Dan bila kita gabungkan kedua pendekatan itu, maka Insya Allah kita akan memperoleh cara yang lebih baik ketimbang hanya lewat satu sisi saja.
Misalnya yang terdapat di dalam QS. Mukminuun : 12 – 14, yang artinya :
”Dan sungguh telah Kami ciptakan manusia dari saripati tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu tersimpan di dalam tempat yang kokoh. Kemudian Kami ciptakan dari saripati itu segumpal darah. Maka Kami ciptakan dari segumpal darah itu segumpal daging. Maka Kami ciptakan dari daging itu tulang – belulang. Dan Kami bungkus tulang – belulang itu dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain. Maka Maha Sucilah Allah. Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian sesudah itu, kamu sekalian akan mati. Kemudian kamu sekalian akan dibangkitkan di Hari Kiamat.”
Firman Allah di atas sangat jelas arahnya. Bahwa kita dipancing untuk memahami penciptaan manusia. Namun informasi dari Al Qur’an tersebut terlalu global untuk memberikan pemahaman yang ‘mengesankan’. Karena, agar lebih memahaminya, kita harus membuka – buka informasi dari ilmu pengetahuan kedokteran yang bersifat empirik dan telah bisa dibuktikan secara ilmiah.
Memang proses pertumbuhan janin di dalam rahim itu kini sudah diketahui secara meluas, sebagai dampak perkembangan ilmu kedokteran. Akan tetapi, pada awalnya firman Allah tersebut bisa memancing orang yang membacanya untuk mengembangkan penelitian tentang proses penciptaan manusia itu. Dan yang demikian itu telah terjadi pada zaman keemasan Islam di abad – abad ke-8 sampai 12, sehingga berkembanglah berbagai bidang ilmu pengentahuan seperti yang kita kenali sekarang : ilmu Kedokteran, ilmu Kimia, Matematika, Astronomi, dan lain - lain.
Apakah tujuan dari pancingan Allah agar kita mengembangkan ilmu pengetahuan itu? Ternyata bukan untuk kehebatan ilmu itu sendiri. Melainkan lebih jauh dan mendalam lagi, yaitu digunakan untuk meyakinkan kita, bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Berilmu, sumber dari segala ilmu pengetahuan. Kalau kita menghayati kenyataan empirik tersebut, hati kita benar – benar akan bergetar mengamati proses penciptaan yang berlangsung secara sangat menakjubkan.
Tugas kita sekarang setelah memahami hal tersebut adalah untuk memberitahu kepada saudara – saudara kita yang belum mengetahuinya, mengajak mereka untuk mengingat semua kebesaran Allah. QS. Al Ghasiyaah: 17 – 26, yang artinya :
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana unta diciptakan? Dan langit bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah mereka peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberikan peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. Tetapi orang yang berpaling dan kafir, maka Allah akan mengazabnya, dengan azab yang besar. Sesungguhnya kepada Kami (Allah) – lah mereka kembali. Kemudian sesungguhnya kewajiban Kami – laj menghisab (mengadili) mereka.”
Sudah tergambar betapa luar biasa ilmu Allah yang tersebar di alam semesta sebagai ayat kauniah, mau pun Ilmu Allah yang termaktub di dalam Al Qur,an. Kita tidak akan pernah mampu memahami seluruh ilmu-Nya, karena manusia ini sangatlah terbatas kemampuannya.
Kini menjadi jelas betapa seluruh pendekatan yang bisa kita lakukan, baik lewat syariat mau pun Sains, untuk memahami eksistensi Allah itu sebenarnya akan bermuara pada hasil yang sama, yaitu kekaguman kita kepada Kebesaran dan Keagungan Allah Sang Maha Pencipta. Di sinilah terbukti, bahwa apa pun yang kita lakukan ternyata telah membawa kita kembali kepada Tauhidullah, yaitu proses meng-Esakan Allah SWT.
Benarkah akhirat itu tidak kekal?
Setelah kemarin malam susah tidur, karena pikiran menewarang jauh entah kemana, memikirkan bermacam - macam hal. Terus pagi ini sebelum pegi beli sarapan, mampi ke warnet dulu untuk ngecek email dan surfing. Buka google, terus tiba - tiba ngetik query-nya "akhirat tidak kekal".
Aku pernah baca buku karangan Agus Mustofa, judulnya "ternyata akhirat tidak kekal". Di dalamnya menyimpulkan bahwa akhirat itu ternyata tidak kekal. Karena akhirat itu adalah ciptaan Allah, jadi berarti termasuk makhluk. Dan makhluk Allah itu tidak kekal, yang kekal hanyalah Allah SWT. Nah dari hasil pencarian di google, banyak juga yang membahas masalah ini. Ada yang tidak sependapat. Karena di dalam Al Qur'an banyak ayat yang menjelaskan bahwa surga dan neraka itu kekal adanya.
Setelah membaca hal2 tersebut, aku berpendapat sebenarnya tidak ada yang salah. Akhirat itu bisa saja memang kekal, tetapi kekal sebatas ketika Allah masih menghendakinya ada (jadi berarti bisa saja tidak kekal bukan?). yah mungkin bisa dibilang kalau kekekalan akhirat itu tidak absolut...karena yang BENAR - BENAR KEKAL itu hanyalah Allah Sang Maha Pencipta.
Hal seperti ini bagus sekali didiskusikan, tetapi tidak dipertentangkan sehingga akan menimbulkan perpecahan. Yang penting kita tetap menjalankan perintahNya seperti yang ada di Al Qu'an dan Hadist. Karena yang jelas kita tentu mengharapkan surga nantinya bukan...Kehidupan di surga lebih dari apa pun di bumi ini.. Dan wajar saja kalau terdapat berbagai pemahaman/penafsiran tentang agama, karena otak kita tidak mempunyai kemampuan untuk menjangkau seluruh informasi yang ada, karena Yang Maha Mengetahui hanyalah Allah SWT.
Pertanyaan:
1. Apabila seorang muslim ingin menikah, bagaimana syariat mengatur cara mengenal seorang muslimah sementara pacaran terlarang dalam Islam?
2. Bagaimana hukum berkunjung ke rumah akhwat (wanita) yang hendak dinikahi dengan tujuan untuk saling mengenal karakter dan sifat masing-masing?
3. Bagaimana hukum seorang ikhwan (lelaki) mengungkapkan perasaannya (sayang atau cinta) kepada akhwat (wanita) calon istrinya?
Dijawab oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari:
بِسْمِ اللهِ، الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ
Benar sekali pernyataan anda bahwa pacaran adalah haram dalam Islam. Pacaran adalah budaya dan peradaban jahiliah yang dilestarikan oleh orang-orang kafir negeri Barat dan lainnya, kemudian diikuti oleh sebagian umat Islam (kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala), dengan dalih mengikuti perkembangan jaman dan sebagai cara untuk mencari dan memilih pasangan hidup. Syariat Islam yang agung ini datang dari Rabb semesta alam Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, dengan tujuan untuk membimbing manusia meraih maslahat-maslahat kehidupan dan menjauhkan mereka dari mafsadah-mafsadah yang akan merusak dan menghancurkan kehidupan mereka sendiri.
Ikhtilath (campur baur antara lelaki dan wanita yang bukan mahram), pergaulan bebas, dan pacaran adalah fitnah (cobaan) dan mafsadah bagi umat manusia secara umum, dan umat Islam secara khusus, maka perkara tersebut tidak bisa ditolerir. Bukankah kehancuran Bani Israil –bangsa yang terlaknat– berawal dari fitnah (godaan) wanita? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لُعِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُوْنَ. كَانُوا لاَ يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوْهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُوْنَ
“Telah terlaknat orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil melalui lisan Nabi Dawud dan Nabi ‘Isa bin Maryam. Hal itu dikarenakan mereka bermaksiat dan melampaui batas. Adalah mereka tidak saling melarang dari kemungkaran yang mereka lakukan. Sangatlah jelek apa yang mereka lakukan.” (Al-Ma`idah: 79-78)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (indah memesona), dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kalian sebagai khalifah (penghuni) di atasnya, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerhatikan amalan kalian. Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan wanita, karena sesungguhnya awal fitnah (kehancuran) Bani Israil dari kaum wanita.” (HR. Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan umatnya untuk berhati-hati dari fitnah wanita, dengan sabda beliau:
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلىَ الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Tidaklah aku meninggalkan fitnah sepeninggalku yang lebih berbahaya terhadap kaum lelaki dari fitnah (godaan) wanita.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma)
Maka, pacaran berarti menjerumuskan diri dalam fitnah yang menghancurkan dan menghinakan, padahal semestinya setiap orang memelihara dan menjauhkan diri darinya. Hal itu karena dalam pacaran terdapat berbagai kemungkaran dan pelanggaran syariat sebagai berikut:
1. Ikhtilath, yaitu bercampur baur antara lelaki dan wanita yang bukan mahram. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjauhkan umatnya dari ikhtilath, sekalipun dalam pelaksanaan shalat. Kaum wanita yang hadir pada shalat berjamaah di Masjid Nabawi ditempatkan di bagian belakang masjid. Dan seusai shalat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiam sejenak, tidak bergeser dari tempatnya agar kaum lelaki tetap di tempat dan tidak beranjak meninggalkan masjid, untuk memberi kesempatan jamaah wanita meninggalkan masjid terlebih dahulu sehingga tidak berpapasan dengan jamaah lelaki. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha dalam Shahih Al-Bukhari. Begitu pula pada hari Ied, kaum wanita disunnahkan untuk keluar ke mushalla (tanah lapang) menghadiri shalat Ied, namun mereka ditempatkan di mushalla bagian belakang, jauh dari shaf kaum lelaki. Sehingga ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam usai menyampaikan khutbah, beliau perlu mendatangi shaf mereka untuk memberikan khutbah khusus karena mereka tidak mendengar khutbah tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu dalam Shahih Muslim.
Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرِهَا، وَخَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا
“Sebaik-baik shaf lelaki adalah shaf terdepan dan sejelek-jeleknya adalah shaf terakhir. Dan sebaik-baik shaf wanita adalah shaf terakhir, dan sejelek-jeleknya adalah shaf terdepan.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Hal itu dikarenakan dekatnya shaf terdepan wanita dari shaf terakhir lelaki sehingga merupakan shaf terjelek, dan jauhnya shaf terakhir wanita dari shaf terdepan lelaki sehingga merupakan shaf terbaik. Apabila pada ibadah shalat yang disyariatkan secara berjamaah, maka bagaimana kiranya jika di luar ibadah? Kita mengetahui bersama, dalam keadaan dan suasana ibadah tentunya seseorang lebih jauh dari perkara-perkara yang berhubungan dengan syahwat. Maka bagaimana sekiranya ikhtilath itu terjadi di luar ibadah? Sedangkan setan bergerak dalam tubuh Bani Adam begitu cepatnya mengikuti peredaran darah . Bukankah sangat ditakutkan terjadinya fitnah dan kerusakan besar karenanya?” (Lihat Fatawa An-Nazhar wal Khalwah wal Ikhtilath, hal. 45)
Subhanallah. Padahal wanita para shahabat keluar menghadiri shalat dalam keadaan berhijab syar’i dengan menutup seluruh tubuhnya –karena seluruh tubuh wanita adalah aurat– sesuai perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Ahzab ayat 59 dan An-Nur ayat 31, tanpa melakukan tabarruj karena Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang mereka melakukan hal itu dalam surat Al-Ahzab ayat 33, juga tanpa memakai wewangian berdasarkan larangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, dan yang lainnya :
وَلْيَخْرُجْنَ وَهُنَّ تَفِلاَتٌ
“Hendaklah mereka keluar tanpa memakai wewangian.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang siapa saja dari mereka yang berbau harum karena terkena bakhur untuk untuk hadir shalat berjamaah sebagaimana dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 53:
وَإِذَا سَأَلْتُمُوْهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوْهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوْبِكُمْ وَقُلُوْبِهِنَّ
“Dan jika kalian (para shahabat) meminta suatu hajat (kebutuhan) kepada mereka (istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka mintalah dari balik hijab. Hal itu lebih bersih (suci) bagi kalbu kalian dan kalbu mereka.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan mereka berinteraksi sesuai tuntutan hajat dari balik hijab dan tidak boleh masuk menemui mereka secara langsung. Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata: “Maka tidak dibenarkan seseorang mengatakan bahwa lebih bersih dan lebih suci bagi para shahabat dan istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan bagi generasi-generasi setelahnya tidaklah demikian. Tidak diragukan lagi bahwa generasi-generasi setelah shahabat justru lebih butuh terhadap hijab dibandingkan para shahabat, karena perbedaan yang sangat jauh antara mereka dalam hal kekuatan iman dan ilmu. Juga karena persaksian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap para shahabat, baik lelaki maupun wanita, termasuk istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri bahwa mereka adalah generasi terbaik setelah para nabi dan rasul, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Demikian pula, dalil-dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah menunjukkan berlakunya suatu hukum secara umum meliputi seluruh umat dan tidak boleh mengkhususkannya untuk pihak tertentu saja tanpa dalil.” (Lihat Fatawa An-Nazhar, hal. 11-10)
Pada saat yang sama, ikhtilath itu sendiri menjadi sebab yang menjerumuskan mereka untuk berpacaran, sebagaimana fakta yang kita saksikan berupa akibat ikhtilath yang terjadi di sekolah, instansi-instansi pemerintah dan swasta, atau tempat-tempat yang lainnya. Wa ilallahil musytaka (Dan hanya kepada Allah kita mengadu)
2. Khalwat, yaitu berduaannya lelaki dan wanita tanpa mahram. Padahal Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالدُّخُوْلَ عَلىَ النِّسَاءِ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ اْلأَنْصَارِ: أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ؟ قَالَ: الْحَمْوُ الْمَوْتُ
“Hati-hatilah kalian dari masuk menemui wanita.” Seorang lelaki dari kalangan Anshar berkata: “Bagaimana pendapatmu dengan kerabat suami? ” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mereka adalah kebinasaan.” (Muttafaq ‘alaih, dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ
“Jangan sekali-kali salah seorang kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali bersama mahram.” (Muttafaq ‘alaih, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma)
Hal itu karena tidaklah terjadi khalwat kecuali setan bersama keduanya sebagai pihak ketiga, sebagaimana dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلاَ يَخْلُوَنَّ بِامْرَأَةٍ لَيْسَ مَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ مِنْهَا فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan sekali-kali dia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa disertai mahramnya, karena setan akan menyertai keduanya.” (HR. Ahmad)
3. Berbagai bentuk perzinaan anggota tubuh yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
كُتِبَ عَلىَ ابْنِ آدَمَ نَصِيْبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ: الْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَاْلأُذُنَانِ زِنَاهُمَا اْلاِسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ، وَالْيَدُ زِنَاهُ الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهُ الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ أَوْ يُكَذِّبُهُ
“Telah ditulis bagi setiap Bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah(lisan) zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, sementara kalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluan lah yang membenarkan atau mendustakan.”
Hadits ini menunjukkan bahwa memandang wanita yang tidak halal untuk dipandang meskipun tanpa syahwat adalah zina mata . Mendengar ucapan wanita (selain istri) dalam bentuk menikmati adalah zina telinga. Berbicara dengan wanita (selain istrinya) dalam bentuk menikmati atau menggoda dan merayunya adalah zina lisan. Menyentuh wanita yang tidak dihalalkan untuk disentuh baik dengan memegang atau yang lainnya adalah zina tangan. Mengayunkan langkah menuju wanita yang menarik hatinya atau menuju tempat perzinaan adalah zina kaki. Sementara kalbu berkeinginan dan mengangan-angankan wanita yang memikatnya, maka itulah zina kalbu. Kemudian boleh jadi kemaluannya mengikuti dengan melakukan perzinaan yang berarti kemaluannya telah membenarkan; atau dia selamat dari zina kemaluan yang berarti kemaluannya telah mendustakan. (Lihat Syarh Riyadhis Shalihin karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, pada syarah hadits no. 16 22)
Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيْلاً
“Dan janganlah kalian mendekati perbuatan zina, sesungguhnya itu adalah perbuatan nista dan sejelek-jelek jalan.” (Al-Isra`: 32)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حِدِيْدٍ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ
“Demi Allah, sungguh jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum dari besi, maka itu lebih baik dari menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 226)
Meskipun sentuhan itu hanya sebatas berjabat tangan maka tetap tidak boleh. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
وَلاَ وَاللهِ مَا مَسَّتْ يَدُ رَسُوْلِ اللهِ يَدَ امْرَأَةٍ قَطُّ غَيْرَ أَنَّهُ يُبَايِعُهُنَّ بِالْكَلاَمِ
“Tidak. Demi Allah, tidak pernah sama sekali tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyentuh tangan wanita (selain mahramnya), melainkan beliau membai’at mereka dengan ucapan (tanpa jabat tangan).” (HR. Muslim)
Demikian pula dengan pandangan, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman dalam surat An-Nur ayat 31-30:
قُلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوْجَهُمْ – إِلَى قَوْلِهِ تَعَلَى – وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ ...
“Katakan (wahai Nabi) kepada kaum mukminin, hendaklah mereka menjaga pandangan serta kemaluan mereka (dari halhal yang diharamkan) –hingga firman-Nya- Dan katakan pula kepada kaum mukminat, hendaklah mereka menjaga pandangan serta kemaluan mereka (dari hal-hal yang diharamkan)….”
Dalam Shahih Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata:
سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظْرِ الْفَجْأَةِ؟ فَقَالَ: اصْرِفْ بَصَرَكَ
“Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang tiba-tiba (tanpa sengaja)? Maka beliau bersabda: ‘Palingkan pandanganmu’.”
Adapun suara dan ucapan wanita, pada asalnya bukanlah aurat yang terlarang. Namun tidak boleh bagi seorang wanita bersuara dan berbicara lebih dari tuntutan hajat (kebutuhan), dan tidak boleh melembutkan suara. Demikian juga dengan isi pembicaraan, tidak boleh berupa perkara-perkara yang membangkitkan syahwat dan mengundang fitnah. Karena bila demikian maka suara dan ucapannya menjadi aurat dan fitnah yang terlarang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَعْرُوْفًا
“Maka janganlah kalian (para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berbicara dengan suara yang lembut, sehingga lelaki yang memiliki penyakit dalam kalbunya menjadi tergoda dan ucapkanlah perkataan yang ma’ruf (baik).” (Al-Ahzab: 32)
Adalah para wanita datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di sekitar beliau hadir para shahabatnya, lalu wanita itu berbicara kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepentingannya dan para shahabat ikut mendengarkan. Tapi mereka tidak berbicara lebih dari tuntutan hajat dan tanpa melembutkan suara.
Dengan demikian jelaslah bahwa pacaran bukanlah alternatif yang ditolerir dalam Islam untuk mencari dan memilih pasangan hidup. Menjadi jelas pula bahwa tidak boleh mengungkapkan perasaan sayang atau cinta kepada calon istri selama belum resmi menjadi istri. Baik ungkapan itu secara langsung atau lewat telepon, ataupun melalui surat. Karena saling mengungkapkan perasaan cinta dan sayang adalah hubungan asmara yang mengandung makna pacaran yang akan menyeret ke dalam fitnah. Demikian pula halnya berkunjung ke rumah calon istri atau wanita yang ingin dilamar dan bergaul dengannya dalam rangka saling mengenal karakter dan sifat masing-masing, karena perbuatan seperti ini juga mengandung makna pacaran yang akan menyeret ke dalam fitnah. Wallahul musta’an (Allah-lah tempat meminta pertolongan).
Adapun cara yang ditunjukkan oleh syariat untuk mengenal wanita yang hendak dilamar adalah dengan mencari keterangan tentang yang bersangkutan melalui seseorang yang mengenalnya, baik tentang biografi (riwayat hidup), karakter, sifat, atau hal lainnya yang dibutuhkan untuk diketahui demi maslahat pernikahan. Bisa pula dengan cara meminta keterangan kepada wanita itu sendiri melalui perantaraan seseorang seperti istri teman atau yang lainnya. Dan pihak yang dimintai keterangan berkewajiban untuk menjawab seobyektif mungkin, meskipun harus membuka aib wanita tersebut karena ini bukan termasuk dalam kategori ghibah yang tercela. Hal ini termasuk dari enam perkara yang dikecualikan dari ghibah, meskipun menyebutkan aib seseorang. Demikian pula sebaliknya dengan pihak wanita yang berkepentingan untuk mengenal lelaki yang berhasrat untuk meminangnya, dapat menempuh cara yang sama.
Dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits Fathimah bintu Qais ketika dilamar oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm, lalu dia minta nasehat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau bersabda:
أَمَّا أَبُو جَهْمٍ فَلاَ يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتِقِهِ، وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوْكٌ لاَ مَالَ لَهُ، انْكِحِي أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ
“Adapun Abu Jahm, maka dia adalah lelaki yang tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya . Adapun Mu’awiyah, dia adalah lelaki miskin yang tidak memiliki harta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid.” (HR. Muslim)
Para ulama juga menyatakan bolehnya berbicara secara langsung dengan calon istri yang dilamar sesuai dengan tuntunan hajat dan maslahat. Akan tetapi tentunya tanpa khalwat dan dari balik hijab. Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (130-129/5 cetakan Darul Atsar) berkata: “Bolehnya berbicara dengan calon istri yang dilamar wajib dibatasi dengan syarat tidak membangkitkan syahwat atau tanpa disertai dengan menikmati percakapan tersebut. Jika hal itu terjadi maka hukumnya haram, karena setiap orang wajib menghindar dan menjauh dari fitnah.”
Perkara ini diistilahkan dengan ta’aruf. Adapun terkait dengan hal-hal yang lebih spesifik yaitu organ tubuh, maka cara yang diajarkan adalah dengan melakukan nazhor, yaitu melihat wanita yang hendak dilamar. Nazhor memiliki aturan-aturan dan persyaratan-persyaratan yang membutuhkan pembahasan khusus .
Agama dan Ilmu Pengetahuan untuk Mentauhidkan Allah
Pernah terucap sebuah pertanyaan :”Bagaimana cara kita memadukan pemahaman agama dan ilmu pengetahuan?Bisakah disinkronkan?”
Pertanyaan ini memiliki kekeliruan yang sangat mendasar. Karena sesungguhnya di dalam Al Qur’an Allah tidak pernah membeda – bedakan, apalagi memisah – misahkan antara syariat dan ilmu pengetahuan. Kedua – duanya menyatu di dalam informasi Al Qur’an dalam konteks mentauhidkan Allah, yaitu memahami eksistensi-Nya. Mengenal-Nya. Berinteraksi dengan Dzat Yang Maha Agung itu, dan akhirnya ’bersatu’ dalam kebesaran-Nya.
Hampir di setiap halaman Al Qur’an yang kita buka, selalu ada informasi – informasi ilmu pengetahuan. Dan yang menarik, informasi ilmu pengetahuan itu bukan sekedar digunakan untuk mengembangkan ilmu itu sendiri, melainkan bertujuan utama untuk mentauhidkan Allah. Artinya, semakin tinggi ilmu yang kita peroleh dari fakta empirik di sekitar kita, maka efeknya harus membawa kita semakin terkagum – kagum oleh kehebatan Allah Yang Maha Esa. Bukan sebaliknya, menjadi sombong dan mengingkari Allah.
Memisahkan dan membeda – bedakan fakta yang ada di sekitar kita, sebenarnya tidak lebih hanyalah pekerjaan manusia, dikarenakan keterbatasannya saja. Bagi Allah fakta ini adalah tunggal. Tidak ada bedanya agama dan ilmu pengentahuan, karena kedua – duanya adalah ayat – ayat Allah juga. Ilmu pengetahuan tersebar di alam semesta, dan syariat tercakup di dalam Al Qur’an. Apa pun yang kita lakukan, dan dari sisi mana pun kita melakukan pendekatan kepada Allah, pasti kita akan bertemu dengan Allah. Dan bila kita gabungkan kedua pendekatan itu, maka Insya Allah kita akan memperoleh cara yang lebih baik ketimbang hanya lewat satu sisi saja.
Misalnya yang terdapat di dalam QS. Mukminuun : 12 – 14, yang artinya :
”Dan sungguh telah Kami ciptakan manusia dari saripati tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu tersimpan di dalam tempat yang kokoh. Kemudian Kami ciptakan dari saripati itu segumpal darah. Maka Kami ciptakan dari segumpal darah itu segumpal daging. Maka Kami ciptakan dari daging itu tulang – belulang. Dan Kami bungkus tulang – belulang itu dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain. Maka Maha Sucilah Allah. Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian sesudah itu, kamu sekalian akan mati. Kemudian kamu sekalian akan dibangkitkan di Hari Kiamat.”
Firman Allah di atas sangat jelas arahnya. Bahwa kita dipancing untuk memahami penciptaan manusia. Namun informasi dari Al Qur’an tersebut terlalu global untuk memberikan pemahaman yang ‘mengesankan’. Karena, agar lebih memahaminya, kita harus membuka – buka informasi dari ilmu pengetahuan kedokteran yang bersifat empirik dan telah bisa dibuktikan secara ilmiah.
Memang proses pertumbuhan janin di dalam rahim itu kini sudah diketahui secara meluas, sebagai dampak perkembangan ilmu kedokteran. Akan tetapi, pada awalnya firman Allah tersebut bisa memancing orang yang membacanya untuk mengembangkan penelitian tentang proses penciptaan manusia itu. Dan yang demikian itu telah terjadi pada zaman keemasan Islam di abad – abad ke-8 sampai 12, sehingga berkembanglah berbagai bidang ilmu pengentahuan seperti yang kita kenali sekarang : ilmu Kedokteran, ilmu Kimia, Matematika, Astronomi, dan lain - lain.
Apakah tujuan dari pancingan Allah agar kita mengembangkan ilmu pengetahuan itu? Ternyata bukan untuk kehebatan ilmu itu sendiri. Melainkan lebih jauh dan mendalam lagi, yaitu digunakan untuk meyakinkan kita, bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Berilmu, sumber dari segala ilmu pengetahuan. Kalau kita menghayati kenyataan empirik tersebut, hati kita benar – benar akan bergetar mengamati proses penciptaan yang berlangsung secara sangat menakjubkan.
Tugas kita sekarang setelah memahami hal tersebut adalah untuk memberitahu kepada saudara – saudara kita yang belum mengetahuinya, mengajak mereka untuk mengingat semua kebesaran Allah. QS. Al Ghasiyaah: 17 – 26, yang artinya :
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana unta diciptakan? Dan langit bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah mereka peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberikan peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. Tetapi orang yang berpaling dan kafir, maka Allah akan mengazabnya, dengan azab yang besar. Sesungguhnya kepada Kami (Allah) – lah mereka kembali. Kemudian sesungguhnya kewajiban Kami – laj menghisab (mengadili) mereka.”
Sudah tergambar betapa luar biasa ilmu Allah yang tersebar di alam semesta sebagai ayat kauniah, mau pun Ilmu Allah yang termaktub di dalam Al Qur,an. Kita tidak akan pernah mampu memahami seluruh ilmu-Nya, karena manusia ini sangatlah terbatas kemampuannya.
Kini menjadi jelas betapa seluruh pendekatan yang bisa kita lakukan, baik lewat syariat mau pun Sains, untuk memahami eksistensi Allah itu sebenarnya akan bermuara pada hasil yang sama, yaitu kekaguman kita kepada Kebesaran dan Keagungan Allah Sang Maha Pencipta. Di sinilah terbukti, bahwa apa pun yang kita lakukan ternyata telah membawa kita kembali kepada Tauhidullah, yaitu proses meng-Esakan Allah SWT.
Benarkah akhirat itu tidak kekal?
Setelah kemarin malam susah tidur, karena pikiran menewarang jauh entah kemana, memikirkan bermacam - macam hal. Terus pagi ini sebelum pegi beli sarapan, mampi ke warnet dulu untuk ngecek email dan surfing. Buka google, terus tiba - tiba ngetik query-nya "akhirat tidak kekal".
Aku pernah baca buku karangan Agus Mustofa, judulnya "ternyata akhirat tidak kekal". Di dalamnya menyimpulkan bahwa akhirat itu ternyata tidak kekal. Karena akhirat itu adalah ciptaan Allah, jadi berarti termasuk makhluk. Dan makhluk Allah itu tidak kekal, yang kekal hanyalah Allah SWT. Nah dari hasil pencarian di google, banyak juga yang membahas masalah ini. Ada yang tidak sependapat. Karena di dalam Al Qur'an banyak ayat yang menjelaskan bahwa surga dan neraka itu kekal adanya.
Setelah membaca hal2 tersebut, aku berpendapat sebenarnya tidak ada yang salah. Akhirat itu bisa saja memang kekal, tetapi kekal sebatas ketika Allah masih menghendakinya ada (jadi berarti bisa saja tidak kekal bukan?). yah mungkin bisa dibilang kalau kekekalan akhirat itu tidak absolut...karena yang BENAR - BENAR KEKAL itu hanyalah Allah Sang Maha Pencipta.
Hal seperti ini bagus sekali didiskusikan, tetapi tidak dipertentangkan sehingga akan menimbulkan perpecahan. Yang penting kita tetap menjalankan perintahNya seperti yang ada di Al Qu'an dan Hadist. Karena yang jelas kita tentu mengharapkan surga nantinya bukan...Kehidupan di surga lebih dari apa pun di bumi ini.. Dan wajar saja kalau terdapat berbagai pemahaman/penafsiran tentang agama, karena otak kita tidak mempunyai kemampuan untuk menjangkau seluruh informasi yang ada, karena Yang Maha Mengetahui hanyalah Allah SWT.
Senin, 03 Agustus 2009
SAJAK TEMAN KANTOR DI ADVETISING.
RIRIS
Burung kenari
lincah kesana kemari
Jika marah suaranya keras sekali
Kadang ia menangis sendiri
Menyesal barangkali
Riris
Burung kenari sangat manja
Ia banyak disuka
Murah senyum
Banyak candanya
Mudah bergaulnya
Diman saja
Kapan saja
Hanya ditempat tidur yang tidak bisa (maaf bercanda)
Riris
Burung kenari berwarna biru
Dibawa rama perwira cepat maju
Suatu bukti menyatakan begitu
Dari Pem,bina usaha sampai manger baru
Salah satu yang dibina
Adalah Gatorade yang sangat laku
Dan terkenal segala penjuru
Dari abang-abang sampai ke petinju
Riris
Burung kenari yang mau pergi
Baca sajak ini berkali kali
Dan simpan dalam hati
Pasti kamu akan selalu ingat siapa yang menulis ini
A.S.S. RP.97 (Abdulrachman Saleh S. Rama perwira 1997)
MIMIN
Mimin panggilannya, Yasmina namanya
Media planner pekerjaanya
Bekerja di Rama Perwira sih belum lama
Tapi prestasi kerja sih sudah ada
Orang ini sebenarnya tetangga saya
Satu komplek tinggalnya
Kalau bekerja banyak jalan kakinya
Karena Pulo gebang - Pulo gadung banyak macetnya
Pakainnya tidak mengenal gaun atau rok sejenisnya
Setiap hari kerja pakai celana panjang dan kemeja
Orangnya ceria, suka nyanyi kecil sendirian saja
Banyak humornya, suka membagi kacis cinema
Dan sampai sekarang saya belum menemukan amarahnya
Kalau pergi keluar negeri tidak lupa
oleh-oleh untuk saya
Mimin orang Sumatera Barat ini selalu banyak makannya
Tapi takut gemuk karena kegemarannya
Kesukaan yang demikian tidak lebih dari paru-paru yang digorengnya.
Dan sarapan pagi lontong sayur kesukaannya.
Eh saya dengar mau pindah cari cowo-cowo yang lebih keren dari yang ada di Rama Perwira
Semoga saya doain di tempat baru enteng jodohnya.
Kalau dapat jangan lupa undang saya tetangganya.
A.S.S. RP. 97 (Abdulrachman Saleh S. Rama Perwira 1997)
AI LEEN (katanya kau sekarang di Malaysia)
Orangnya ramah, sopan adanya
Dan suka menegur siapa saja dengan bahasa ASALNYA
Terhadap anak buah banyak perhatiannya
Penampilan rapi dengan baju-bajunya.
Yang kadang kala tidak menyembunyikan betisnya yang indah
Soal pekerjaan jangan dikata
Rencana-rencana pemasangan di Mass Media sudah pakarnya
Menghitung biaya dan membaginya sudah biasa
Orang ini tenang tidak mau berisik rupanya
Banyak kerjanya dari pada kata-kata
Jabatan terakhir Media Direktur, kurang lebih sudah 4 tahun bekerja di Rama Perwira
Kesukaan makannya tidak jauh dari combro, ayam cabe hijau dan puyung hai kesukaanya
masakan padang apalagi dengan ayam bakar sampai dua
Kini pamit mau pindah entah kemana yang penting kita
Aku sebagai pribadi yang mengagumi betisnya
Hanya berdoa di tempat yang baru lebih sukses daripada tempat yang lama
Singkat kata hanya itu yang bisa saya perbuat dan saya berkata.
A.S.S. R.P. 4.97
(Abdulrachman Saleh S. Rapa Perwira April 1997)
"RINA PURNAMA"
Rina ketika kau sedang cemberut aku tersenyum dan bertanya.
"Apa yang bisa kubantu?"
Rina ketika kau sedang terbungkuk mennahan saki
aku hanya bisa bilang "Jaga kesehtanmu."
Rina ketika kita berjalan lewat Tall menatap bulan purnama
aku bilang "Ternyata hidup itu indah".
"Lihat cahaya bulan menatap kita"
lalu aku cuma bilang
"Kebahagiaan yang abadi, hidup itu jangan serakah"
Ketika kau sudah tidak sendiri aku hanya pesan
"Trus and respect are conditioned of happy maried, saling percaya dan saling menghormati kunci kebahagiaan rumah tangga.
Rinna jangan lupa baca surat Aruum ayat 24 dan surat Al Baqarah surat 2 ayat 255 (ayat kursi) jika kamu mau tidur
Rina ketika aku dengar aku tidak jadi punya ponakan
aku hanya berkata "Itu belum rejekinya", nanti juga
banyak seperti Pak Abdul punya anak lima
Rina ketika kudengar kau akan pamit dari kita
terutama aku pribadi yang mengenal kebaikan Anda
Lima tahun saling bahu membahu membagi suka dan duka
dealam mengarungi bina usaha
ditanggung bersa sepertinya
waktu itu berlalu singkat saja
Tapi bukan kita bertanya pada diri kita
dalam kata bijaknya
I wonder what is ahead of us next year
"Aku bertanya pada hati ini apa yang akan terjadi pada
diri kita tahun yang akan datang"
Bukan kita membawa nasibnya
Selamat jalan Rina selamat menempuh jalan baru
mungkin disana tidak banyak duri dan paku
tapi rintangan hidup akan ada di mana-mana
disini maupun disitu
itulah hidup dengan penuh liku-liku
hanya pesanku tabah tawakal dekat dengan Allah
satu-satunya pelindung kita
naskah puisi ini ku buat waktu kamu pamit dari Rama Perwira
dan dibacakan oleh aku di depan teman-teman kita
sekarang naskah ini untukmu
Juga salam untuk Boy dan anakmu
ASS. R.P. (Abdulrachman Saleh S. Rama Perwira 97).
Burung kenari
lincah kesana kemari
Jika marah suaranya keras sekali
Kadang ia menangis sendiri
Menyesal barangkali
Riris
Burung kenari sangat manja
Ia banyak disuka
Murah senyum
Banyak candanya
Mudah bergaulnya
Diman saja
Kapan saja
Hanya ditempat tidur yang tidak bisa (maaf bercanda)
Riris
Burung kenari berwarna biru
Dibawa rama perwira cepat maju
Suatu bukti menyatakan begitu
Dari Pem,bina usaha sampai manger baru
Salah satu yang dibina
Adalah Gatorade yang sangat laku
Dan terkenal segala penjuru
Dari abang-abang sampai ke petinju
Riris
Burung kenari yang mau pergi
Baca sajak ini berkali kali
Dan simpan dalam hati
Pasti kamu akan selalu ingat siapa yang menulis ini
A.S.S. RP.97 (Abdulrachman Saleh S. Rama perwira 1997)
MIMIN
Mimin panggilannya, Yasmina namanya
Media planner pekerjaanya
Bekerja di Rama Perwira sih belum lama
Tapi prestasi kerja sih sudah ada
Orang ini sebenarnya tetangga saya
Satu komplek tinggalnya
Kalau bekerja banyak jalan kakinya
Karena Pulo gebang - Pulo gadung banyak macetnya
Pakainnya tidak mengenal gaun atau rok sejenisnya
Setiap hari kerja pakai celana panjang dan kemeja
Orangnya ceria, suka nyanyi kecil sendirian saja
Banyak humornya, suka membagi kacis cinema
Dan sampai sekarang saya belum menemukan amarahnya
Kalau pergi keluar negeri tidak lupa
oleh-oleh untuk saya
Mimin orang Sumatera Barat ini selalu banyak makannya
Tapi takut gemuk karena kegemarannya
Kesukaan yang demikian tidak lebih dari paru-paru yang digorengnya.
Dan sarapan pagi lontong sayur kesukaannya.
Eh saya dengar mau pindah cari cowo-cowo yang lebih keren dari yang ada di Rama Perwira
Semoga saya doain di tempat baru enteng jodohnya.
Kalau dapat jangan lupa undang saya tetangganya.
A.S.S. RP. 97 (Abdulrachman Saleh S. Rama Perwira 1997)
AI LEEN (katanya kau sekarang di Malaysia)
Orangnya ramah, sopan adanya
Dan suka menegur siapa saja dengan bahasa ASALNYA
Terhadap anak buah banyak perhatiannya
Penampilan rapi dengan baju-bajunya.
Yang kadang kala tidak menyembunyikan betisnya yang indah
Soal pekerjaan jangan dikata
Rencana-rencana pemasangan di Mass Media sudah pakarnya
Menghitung biaya dan membaginya sudah biasa
Orang ini tenang tidak mau berisik rupanya
Banyak kerjanya dari pada kata-kata
Jabatan terakhir Media Direktur, kurang lebih sudah 4 tahun bekerja di Rama Perwira
Kesukaan makannya tidak jauh dari combro, ayam cabe hijau dan puyung hai kesukaanya
masakan padang apalagi dengan ayam bakar sampai dua
Kini pamit mau pindah entah kemana yang penting kita
Aku sebagai pribadi yang mengagumi betisnya
Hanya berdoa di tempat yang baru lebih sukses daripada tempat yang lama
Singkat kata hanya itu yang bisa saya perbuat dan saya berkata.
A.S.S. R.P. 4.97
(Abdulrachman Saleh S. Rapa Perwira April 1997)
"RINA PURNAMA"
Rina ketika kau sedang cemberut aku tersenyum dan bertanya.
"Apa yang bisa kubantu?"
Rina ketika kau sedang terbungkuk mennahan saki
aku hanya bisa bilang "Jaga kesehtanmu."
Rina ketika kita berjalan lewat Tall menatap bulan purnama
aku bilang "Ternyata hidup itu indah".
"Lihat cahaya bulan menatap kita"
lalu aku cuma bilang
"Kebahagiaan yang abadi, hidup itu jangan serakah"
Ketika kau sudah tidak sendiri aku hanya pesan
"Trus and respect are conditioned of happy maried, saling percaya dan saling menghormati kunci kebahagiaan rumah tangga.
Rinna jangan lupa baca surat Aruum ayat 24 dan surat Al Baqarah surat 2 ayat 255 (ayat kursi) jika kamu mau tidur
Rina ketika aku dengar aku tidak jadi punya ponakan
aku hanya berkata "Itu belum rejekinya", nanti juga
banyak seperti Pak Abdul punya anak lima
Rina ketika kudengar kau akan pamit dari kita
terutama aku pribadi yang mengenal kebaikan Anda
Lima tahun saling bahu membahu membagi suka dan duka
dealam mengarungi bina usaha
ditanggung bersa sepertinya
waktu itu berlalu singkat saja
Tapi bukan kita bertanya pada diri kita
dalam kata bijaknya
I wonder what is ahead of us next year
"Aku bertanya pada hati ini apa yang akan terjadi pada
diri kita tahun yang akan datang"
Bukan kita membawa nasibnya
Selamat jalan Rina selamat menempuh jalan baru
mungkin disana tidak banyak duri dan paku
tapi rintangan hidup akan ada di mana-mana
disini maupun disitu
itulah hidup dengan penuh liku-liku
hanya pesanku tabah tawakal dekat dengan Allah
satu-satunya pelindung kita
naskah puisi ini ku buat waktu kamu pamit dari Rama Perwira
dan dibacakan oleh aku di depan teman-teman kita
sekarang naskah ini untukmu
Juga salam untuk Boy dan anakmu
ASS. R.P. (Abdulrachman Saleh S. Rama Perwira 97).
MATHEUS
Matheus
Yang tinggi kurus
Senyumnya yang selalu terus
Biar susah biar senang
Juga dalam serius
Matheus ingata
Lama kerja di Rama Perwira
Enama tahun tidak terasa
Media Buyer Jabatannya
Matheus
Yang rambutnya agak lurus
kerjanya juga bagus
Tidak pernah susah melawan Arus
Matheus ingata hanidas
Hari telah ditentukan tinggal landas
Minggalkan kita pindah ke
Advertising yang pas
Bagiku bagi kita cuma mengucapkan
selamat jalan Matius Ingata Hanidas
Dari rekan-rekan Rama Perwira
ASS. R.P. (Abdulrachman Saleh S Rama Perwira) 97.
Langganan:
Postingan (Atom)